Kamis, 24 Juli 2008

Seputara Unit Link Product

Selamat siang Pak Daniell,

Kalo boleh sy ikut nimbrung....

Walaupun saya tau disini banyak didebatkan ttg kerugian UL, sebagai salah seorang agen Prudential (jeleknya : tidak ambisius dalam mengejar target), saya akan coba bantu menjelaskan pertanyaan bapak sebisa sy.

Karena dasarnya sebagai perusahaan asuransi, maka produk utamanya tetap asuransi jiwa. Bila bapak ikut yang bayarnya berjangka (bulanan, 3bln, 6bln, 12bln) dinamakan PAA (Prulink Assurance Account), bila bapak ikut yang bayarnya hanya 1x selama jadi nasabah min.Rp12juta dinamakan PIA atau Prulink Investor account. Dari sana dapat ditentukan UP atau uang pertanggungannya berapa.

Sedangkan yg bapak sebutkan berikutnya itu sebagai rider/tambahan. Biasanya paket rider yang ditawarkan adalah :

1.Critis Cover /PCC : Selama periode kontrak bilamana nasabah didiagnosa mendapat 1 dari 34 jenis penyakit kritis yang telah ditentukan Pru, maka uangnya dpt diambil u/pengobatan (bila setoran 350rb/bln mungkin bs dapat 30-50jt) dan selanjutnya karena telah sakit kritis (artinya tdk bs bekerja) bapak tidak perlu setor yg 350rb/bulan, sebaliknya niat bapak untuk investasi diteruskan oleh pru sebesar rp350/bl sampai bpk usia 65 tahun, yang uang hasil investnya bisa diambil kapan saja (tergantung saldo tentunya). Dan bila setelah sakit bpk diobati kemudian sembuh pun dan bisa bekerja kembali, bapak tetap tidak perlu bayar lagi yg 350rb/bln itu. biaya asuransinya kecil kalo 30jt sekitar 3-5rb/bulan. kalo setelah sakit nasabah meninggal, maka uang pertanggungannya dikurangi 30jt ini. Misal up (uang pertangguangan) 200jt, karena sdh diambil 30jt, saat meninggal warisan buat keluarganya 170jt. Kalo rider yang diambil critis cover benefit syariah, maka walo sdh diambil uangnya, tdk mengurangi jumlah up. Tp biaya asuransinya mgkn lebih tinggi dibanding critis cover doang.

2. Personal Accident Death & disable/PADD : Meninggal/cacat tetap karena kecelakaan. Bila nasabah mengalami cacat tetap (2 anggota tubuh tidak berfungsi) asuransinya 10% dari jumlah total. Bila nasabah meninggal karena kecelakaan maka uang yang didapat bukan hanya up 200jt tapi plus uang padd misal 150jt shg total = 350jt. Biaya asuransi lumayan besar, mgkn sktr 25rb-an

3. Pru-Medical : bisa claim stlh rawat inap (max.100hari/ th). ini biaya asuransinya cukup besar. Jd untuk yg dicover oleh persh-nya saya bikinkan kecil saja misal Rp280rb/hari. Krn kita kan walopun sakit jarang sampai rawat inap, walopun iya dlm setahun paling brp hari saja (kecuali u/yg sering sakit-riwayat kesehatan tdk bagus), jadi drpd bayar biaya besar tp jarang dipakai..mending sy buat secukupnya sj, toh sudah dicover ama kantor. untuk perawatan ICU max 30hr/th, dan cover u/operasi kecil,sedang, besar.

4. Pru payor : ini lah yang membiayai saat nasabah terkena sakit kritis, nasabah bayar biayanya u/antisipasi kena penyakit tsb shg nanti Pru sbg pembayar storan bulanan berikutnya

mgkn sy agen yg tidak bagus, karena hny membuatkan 4 point itu saja. Itu krn sy pikir buat apa bayar besar biaya asuransi terus, mending dibanyakin ke investasinya. ya..walo komisi yg sy dpt jd kecil.. krn komisi kan dr premi asuransi. Mengapa sy begitu? gak mau dpt income besar? ya tentu sj mau... tp sy lebih ingin membantu teman2 dan tetangga yg pendapatannya jg tdk besar. Dg mengajak mereka masuk asuransi u/proteksi plus rutin berinvestasi (misal 100rb/bln beli saham) secara tdk sadar mrk sudah menjadi investor. kalo masalah harga saham diprediksi akan anjlok ditahun 2016..., ya pintar2lah kita kapan mau mencairkannya. kan ada koran dll.

memang u/besar setorannya, akan tergantung sekali pada usia, merokok/tdk merokok. minimal 300rb bisa kalo dibawah 30th. Sy sih banyaknya ya kisaran 300-350rb itu, karena kemampuan nasabahnya memang segitu. Tp sy senang bisa mengajak mereka u/ikut asuransi dan berinvestasi.

Dan spt pak Rian bilang, u/nasabah prudential skrg bisa akses sendiri tuk cek posisi polis nya via internet dg password pribadi. Praktis kan?

So..bapak ga salah koq pilih prudential. Dgn RBC yg besar, reputasi bagus, pengalaman 1,5 abad lebih..sy pikir ini pilihan yg bagus. Saya pikir tidak perlu risau takut bangkrut, kalo pun sampai terjadi, prudential sendiri kan di asuransikan lagi ke ..wah apa namanya y saya lupa..perusahaan asuransi u/perusahaan asuransi gitu deh... maaf ya pak sy juga belum paham sampai sana. Tapi sy semangat koq nawarin prudential, krn sy yakin dg manfaatnya.

Jadi kalo ada yg mau masuk via sy, dgn senang hati akan sy bantu.

Mohon maaf kalo penjelasannya kurang. Kalo ada rekan agen prudential yg lain, silahkan menambahkan kekurangannya

Kamis, 12 Juni 2008

Pejabat Depkeu tinggalkan BUMN

Kamis, 12/06/2008
Pejabat Depkeu tinggalkan BUMN
JAKARTA: Para pejabat eselon I di Departemen Keuangan beramai-ramai melepaskan jabatan sebagai komisaris di sejumlah BUMN dengan alasan menjalankan reformasi birokrasi.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan untuk menghindari konflik kepentingan, seluruh pejabat Depkeu konsisten menjaga amanah jabatan.

Dia mengingatkan reformasi birokrasi bertujuan menata staf Depkeu untuk memiliki kepastian dalam menjalankan tugas sekaligus kewajaran dalam hal penghasilan. "Mereka patut mendapatkan remunerasi yang cukup. Tapi yang lebih penting lagi, mereka tidak mendapatkan beban tugas yang lain," tutur Menkeu kemarin.

Kesediaan melepas jabatan rangkap pertama kali disampaikan Dirjen Pajak Darmin Nasution di hadapan wartawan. Dia mundur dari posisi komisaris utama PT Bursa Efek Indonesia yang baru dijabat beberapa hari.

Darmin mengaku telah mengkaji kembali posisinya sebagai komisaris utama BEI, meski persoalan rangkap jabatan itu masih bisa diperdebatkan.

"Ada yang bilang bisa, tapi situasi ini bukan sekadar soal benar atau tidak benar. Situasi ini perlu wisdom lebih. [Dengan] kebijaksanaan yang lebih tinggi, mendukung reformasi yang kita laksanakan, jadi saya akan mengundurkan diri," ujar Darmin.

Masalah jabatan rangkap kembali mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempertanyakan aturan ini kepada Kementerian Negara BUMN. Selain ketidakwajaran jumlah penghasilan, KPK juga menyoroti conflict of interest yang timbul dari jabatan rangkap.

Menjawab permintaan KPK itu, Depkeu dan Kementerian Negara BUMN sepakat mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) tentang aturan rangkap jabatan pada bulan ini (Bisnis, 7 Juni).

Keputusan Darmin itu diikuti oleh sejumlah pejabat eselon I Depkeu. Sekjen Depkeu Mulia Nasution yang ditemui seusai rapat Panitia Anggaran DPR menegaskan, "Semua [pejabat eselon I Depkeu] tanpa kecuali."

Dirjen Anggaran Depkeu Achmad Rochjadi mengaku akan mundur dari jabatan Komisaris PT Pertamina. "Kami semua juga ikut. Arahnya seperti itu."

Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengungkapkan dia jauh lebih awal mundur dari jabatan komisaris di salah satu BUMN (PT Krakatau Steel) sejak 1 Juni 2008. Selain karena alasan reformasi birokrasi, kode etik di Ditjen Bea dan Cukai membuat Anwar ikhlas melepas posisi penting di luar tugas kesehariannya sebagai pejabat eselon I Depkeu.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu Anggito Abimanyu berjanji segera mengajukan pengunduran diri melalui RUPS PT Telkom Tbk. Dia juga meminta BUMN itu menggunakan gajinya yang tidak diambil sejak program reformasi birokrasi diterapkan untuk program kegiatan bina lingkungan. "Saya akan mundur secara kesatria, sooner or later."

Dirjen Perbendaharaan Negara Herry Purnomo menyatakan mundur dari jabatan komisaris PT Pos Indonesia. Begitu pula Dirjen Perimbangan Keuangan Mardiasmo yang mundur dari jabatan komisaris utama PT Jasa Raharja. "Jika itu memang keputusan pimpinan, kami mengikutinya," ujarnya kepada Bisnis, tadi malam.

Pernyataan senada disampaikan oleh Dirjen Kekayaan Negara Hadiyanto yang menjabat komisaris utama PT Garuda Indonesia dan komisaris Bank Tabungan Pensiunan Nasional.

Kepala Bapepam-LK Fuad Rachmany dan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto tidak mengangkat telepon saat dikonfirmasi Bisnis.

Tugas negara

Sebaliknya, Kementerian Negara BUMN justru mengisyaratkan akan mempertahankan sejumlah pejabatnya yang menjadi komisaris di perusahaan negara.

Sekretaris Kementerian Negara BUMN M. Said Didu mengatakan penetapan komisaris di perusahaan pelat merah merupakan penugasan dari negara.

"Penetapan komisaris berbasis asas manfaat bagi negara, karena kami harus menjaga kepentingan negara yang ada di beberapa perusahaan milik negara," ujarnya kepada Bisnis, tadi malam.

Said memastikan tidak ada penempatan komisaris di BUMN yang melanggar ketentuan. "Penempatan komisaris BUMN mengacu pada regulasi yang berlaku, baik di pasar modal dan perbankan maupun di sejumlah tempat lain."

Dia menjelaskan ada penempatan komisaris yang bersifat sementara, mengingat kinerja BUMN yang jelek, sehingga diperlukan orang yang bisa mengawasi perusahaan tersebut. (16) (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id/aprilian.hermawan@bisnis.co.id) Oleh Ahmad Muhibbuddin, M. Munir Haikal & Aprilian Hermawan
Bisnis Indonesia

Manajer Investasi Tinggalkan Reksa Dana Saham

Bursa
Kamis, 12/06/2008
MI tinggalkan reksa dana saham
JAKARTA: Pelaku industri reksa dana mulai mengurangi peluncuran produk baru reksa dana, menyusul tingginya volatilitas pergerakan saham di bursa. Faktor risiko investasi mengubah peta industri tersebut.

Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) per Mei menyebutkan tren penerbitan produk baru reksa dana tahun ini bergeser dari reksa dana saham ke reksa dana terproteksi.

Hingga akhir Mei, manajer investasi (MI) menerbitkan sebelas produk reksa dana terproteksi, sehingga total produk ini yang beredar di pasar sebanyak 37. Di sisi lain, reksa dana saham baru hanya diluncurkan dua MI, yakni PT Trimegah Securities Tbk dan PT Fortis Investment Management.

Analis senior reksa dana PT Infovesta Utama Rudiyanto menilai perubahan angin investasi pasar modal mengubah orientasi penjualan produk reksa dana baru. Terlebih, otoritas pasar modal kini mengharuskan produk baru memiliki dana kelolaan minimum Rp25 miliar dalam 90 hari.

Perbandingan produk baru reksa dana (Periode Januari-Mei 2008)

TerproteksiPendapatan tetapSahamCampuranPasar uang
Januari211--
Februari53251
Maret10833-
April97532
Mei119221
Total372813134
Sumber: Bapepam-LK & PT Infovesta Utama (2008)

"Pelaku industri tentu saja melihat tren pasar. Kalau MI nekat menjual produk reksa dana saham, tapi ternyata tidak laku, ya repot karena tidak bisa memenuhi ketentuan Bapepam-LK," tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Krisis keuangan dan kenaikan harga minyak mentah dunia, lanjutnya, membuat profil risiko investasi saham meningkat, yang dibarengi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi di pasar surat utang.

Para MI mengoptimalkan yield sebagai kelebihan instrumen investasi surat utang, untuk mengoptimalkan keuntungan investasi (return) terutama ketika mendekati jatuh tempo.

"Yang membedakan investasi saham dan obligasi adalah faktor jatuh tempo. Ketika obligasi mendekati jatuh tempo, harganya akan naik ke titik 100 [par]. Kondisi itu dimanfaatkan MI dengan menerbitkan reksa dana terproteksi," tutur Rudiyanto.

MI, tambahnya, bisa menggunakan sebagian dana investasi di obligasi untuk dibelanjakan ke instrumen investasi lain seperti saham atau pasar uang.

Tumbuh pesat

Rudiyanto menambahkan meski tren penerbitan reksa dana saham mulai surut di pasar, tetapi perkembangan lini produk tersebut terhitung pesat. Pada akhir 2006, hanya ada sekitar 30 produk reksa dana saham, yang kini telah meningkat dua kali lipat menjadi 61 produk.

"Dilihat dari sisi nilai aktiva bersih [NAB], produk ini tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan produk reksa dana lain," ujarnya.

Data Bapepam-LK menyebutkan NAB reksa dana saham kini masih menduduki posisi terbesar, yakni Rp35,41 triliun. Reksa dana terproteksi hanya membukukan Rp19,6 triliun, disusul reksa dana pendapatan tetap Rp17,18 triliun.

Analis Fixed Income PT Panin Sekuritas Benjamin Siahaan mengatakan tren kenaikan suku bunga (BI Rate) saat ini akan mendorong para investor memborong produk reksa dana terproteksi, karena memberikan jaminan proteksi capital.

"Dengan kenaikan inflasi, investor mencari produk investasi lain yang memberikan return tinggi, dan relatif aman. Reksa dana terproteksi akan menjadi salah satu pilihan menarik," ujarnya awal pekan ini. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

Selasa, 18 Maret 2008

Menkeu : Risiko krisis di AS sangat serius

Halaman Depan
Selasa, 18/03/2008
Menkeu: Risiko krisis di AS sangat serius
JAKARTA: Risiko krisis ekonomi di Amerika Serikat dinilai sudah sangat serius dan dapat mengubah seluruh proyeksi pertumbuhan ekonomi di dunia, di AS sendiri, dan Asia, termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai situasi ini dapat membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 6,4% seperti yang diasumsikan dalam RAPBN-P 2008.

Dia mengatakan pengumuman penurunan suku bunga diskonto yang dilakukan bank sentral AS, pada Minggu, yang merupakan hari libur, menggambarkan ancaman terhadap ekonomi AS sangat serius.

"Pertumbuhan 6,4% dengan risiko ke bawah lebih besar daripada risiko netralnya," katanya, saat rapat kerja dengan DPR, kemarin.

Dalam kondisi seperti ini, potensi terjadinya lonjakan harga produk di pasar akan sangat besar. Kenaikan harga ini terutama berpotensi terhadap barang-barang yang tidak diproteksi pemerintah. "Ini sedikit banyak akan menggerus daya beli masyarakat."

Bisa membengkak

Menkeu juga merujuk prediksi sejumlah kalangan memperkirakan kerugian sektor keuangan AS akibat subprime mortgage bisa mencapai Rp1.000 triliun dan jumlah ini bisa membengkak hingga Rp3.000 triliun. Padahal, angka perkiraan itu menggunakan asumsi paling pesimistis. Jika ini terjadi, krisis subprime telah mencapai 30% dari total produk domestik bruto AS yang mencapai Rp12.000 triliun.

Menghadapi situasi yang serba tidak pasti ini, lanjut Menkeu, pemerintah melihat perlunya melanjutkan penyusunan APBN-P dengan menggunakan asumsi-asumsi yang pasti untuk memudahkan pengelolaan.

Dalam pembahasan RAPBN-P 2008 dengan Panja Asumsi dan Penerimaan Panitia Anggaran DPR, pertumbuhan ekonomi disepakati 6,4%. Dalam APBN 2008, pemerintah mematok pertumbuhan 6,8%. (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)

Oleh Ahmad Muhibbuddin
Bisnis Indonesia

Ingin jadi entrepreneur : Jawab dulu 7 pertanyaan ini ?

Opini
Selasa, 18/03/2008
Ingin jadi entrepreneur?
Jawab dulu 7 pertanyaan ini
Saya bersyukur kepada Tuhan telah mengarungi samudra entrepreneurship selama lebih dari 50 tahun dengan modal dana awal yang dapat dikatakan nol. Modal utama saya pertolongan Tuhan dan kecakapan entrepreneurship.

Dalam perjalanan panjang ber-entrepreneurship saya pernah mengalami berbagai perjalanan berliku, naik turun, gagal dan juga berhasil.

Oleh karena itu saya merasa bangga bila kemudian E&Y, sebuah organisasi dunia memberikan penghargaan menjadi E&Y Indonesia Entrepreneur of The Year 2007 setelah meneliti perjalanan hidup saya dan prestasi yang pernah saya capai.

Saya simpulkan entrepreneurship mengubah masa depan manusia jadi lebih baik dan menciptakan kemakmuran, mengingat latar belakang saya sebelumnya sebagai anak yatim dari keluarga sangat sederhana.

Sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya mencapai usia 75 tahun saya memutuskan untuk menyebarkan dan membagikan seluas mungkin kecakapan entrepreneurship kepada masyarakat melalui Yayasan Ciputra Entrepreneur.

Saya berkeyakinan kuat cita-cita kemakmuran Indonesia bukan sebuah mimpi di siang hari bolong asalkan kita lahirkan banyak entrepreneur-entrepreneur baru yang sukses. Melalui Yayasan Ciputra Entrepreneur saya ingin wariskan kepada masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai semangat dan kecakapan entrepreneurship.

Dalam rangka tujuan itu saya menyusun sebuah panduan 7 pertanyaan penguji untuk mereka yang ingin jadi seorang entrepreneur yang sukses.

Pertanyaan 1: Apakah Anda sangat passionate untuk jadi seorang entrepreneur?

Kalau Anda ingin berhasil dalam entrepreneurship Anda harus memiliki keinginan yang sangat besar, semangat baja dan percaya diri untuk jadi entrepreneur. Tidak bisa iseng-iseng untuk jadi entrepreneur, motivasi iseng-iseng tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangannya. Anda harus rela dan berani bekerja dengan jam yang panjang, mencoba hal yang baru, tetap berusaha walau ditolak dan diabaikan, mau belajar dari kegagalan dan sebagainya.

Pertanyaan 2: Apakah Anda melihat sebuah kesempatan besar melayani pasar secara kreatif?

Kerap saya melihat banyak orang gagal dalam bisnis karena tidak melihat peluang secara kreatif. Mereka hanya meng-copy keberhasilan orang lain tanpa menambahkan nilai-nilai kreativitas ke dalam produknya.

Ada berapa banyak peluang itu sesungguhnya? Banyak sekali, tidak terhitung, masalahnya Anda harus melihatnya dengan kaca mata kreatif. Berapa banyak peluang yang Anda bisa lihat tergantung sejernih apa kaca mata kreativitas anda?

Inovatif

Pertanyaan 3: Apakah Anda memiliki sebuah produk inovatif yang ketika Anda tawarkan, prospek Anda tidak mampu mengatakan tidak?

Sebuah produk inovatif memberikan nilai tambah maksimum sedemikian rupa hingga konsumen tidak mampu mengatakan tidak ketika Anda menawarkannya.

Oleh karena itu verifikasi asumsi-asumsi anda, lakukan uji pasar dan perbarui terus ide Anda sampai anda yakin pelanggan tidak sanggup mengatakan tidak ketika anda menawarkannya.

Pertanyaan 4: Apakah Anda memiliki kapasitas untuk memenangkan persaingan secara efektif?

Pasar yang kita hadapi adalah pasar bebas yang membuka pintu lebar-lebar kepada persaingan. Ja-ngan pernah masuk ke sebuah pasar tanpa memperhitungkan apa yang sedang dan akan dilakukan oleh pesaing. Pastikan bahwa pelanggan akan memilih anda. Nasehat bisnis ini perlu anda pikir baik-baik, be better not behind, if you are not better be different. Kalau belum better dan belum different pekerjaan rumah anda belum selesai.

Pertanyaan 5: Apakah Anda tahu bagaimana menghasilkan produk atau jasa yang ingin Anda pasarkan dengan cara yang paling efisien?

Setelah Anda memastikan bahwa pelanggan dapat Anda capai dan bisa puaskan maka pihak selanjutnya yang Anda harus puaskan adalah pemegang saham dan karyawan perusahaan.

Mereka harus Anda layani dengan margin laba yang cukup untuk gaji dan dividen yang memuaskan. Oleh karena itu lakukanlah eksplorasi berbagai kemungkinan produksi yang termurah namun dengan kualitas yang terbaik.

Pertanyaan 6: Apakah Anda tahu bagaimana caranya mendanai keseluruhan usaha baru Anda dengan biaya termurah serta risiko terendah sementara hasil terbaik tetap dapat Anda da-patkan?

Ada berbagai cara untuk mendanai sebuah usaha baru dan ada beragam besar risiko yang bisa terjadi. Anda bisa meminjam uang dari keluarga, teman, tetangga atau dari bank. Anda bisa mengajak teman jadi pemegang saham atau mengundang modal ventura untuk ikut memulai usaha.

Setiap pilihan memiliki plus dan minus tersendiri, hasil akhir dan risiko yang berbeda. Oleh karena itu jangan hanya membuat sebuah model bisnis, kembangkan berbagai alternatif dan pilih yang terbaik.

Pertanyaan 7: Apakah Anda siap menghadapi tuntutan kerja keras, risiko gagal dan rugi? Tidak ada gading yang tak retak, tidak pernah ada rencana yang sempurna.

Dari pengalaman saya perubahan dapat terjadi kapan saja oleh karena itu penyesuaian-penyesuaian harus tetap dilakukan. Walaupun demikian risiko gagal atau rugi ataupun risiko malu karena gagal tetap ada. Lakukan kalkulasi sebelumnya dan pastikan Anda berani menghadapinya.

Oleh DR HC Ciputra
Pendiri Yayasan Ciputra Entrepreneur

Turbulensi financial global

Tajuk
Selasa, 18/03/2008
Turbulensi finansial global
Kondisi ekonomi dan finansial dunia makin parah. Di Tokyo, saham berjatuhan dan nilai tukar dolar AS terhadap yen melemah, mencapai di bawah 100 yen per US$. Ini kurs terendah dalam 12 tahun terakhir.

Dolar AS tidak hanya melemah drastis terhadap yen, tetapi hampir terhadap semua mata uang utama. Kalangan investor pun pesimistis dengan perekonomian AS, tempat krisis itu bermula.

Turbulensi dipicu oleh krisis subprime mortgages, yaitu skema utang untuk pembeli rumah berpendapatan rendah. Kredit perumahan berkualitas rendah itu menjadi penyebab kebangkrutan finansial banyak perusahaan sekuritas dan bank investasi.

Menanggapi hal itu, Chairman The Fed-bank sentral AS-Ben Bernanke menegaskan tidak dapat berbuat banyak untuk menolong keadaan.

Di Jepang sendiri, krisis finansial itu mengekori pergantian Toshihiko Fukui, gubernur bank sentral Jepang-Bank of Japan-yang jabatannya akan berakhir 19 Maret ini.

Seperti diketahui, kandidat yang diajukan PM Yasuo Fukuda, Toshiro Muto yang notabene deputi gubernur BoJ, ditolak oleh kaum oposisi di parlemen. Fukuda kini te-ngah mempertimbangkan untuk kembali mengajukan Muto atau mengajukan nama baru. Apa boleh buat, Fukuda harus meme-cahkan persoalan ini.

  • The Asahi Shimbun, 15 Maret
  • Manajemen Keuangan untuk si miskin

    Keuangan
    Selasa, 18/03/2008
    Manajemen keuangan untuk si miskin
    Kesabaran yang berlipat mungkin membantu Budi Soetjipto untuk menanti perubahan. Dia ingin tahu bagaimana pola pikir masyarakat miskin berganti soal pengaturan uang-setidaknya-dalam tiga tahun mendatang. Pelatihan digelar. Tujuannya sederhana, bagaimana cara menganggarkan uang dan menabung bagi mereka yang tergolong lemah finansial?

    "Mereka mungkin sudah tahu apa yang mereka inginkan," ujarnya. "Namun, tidak tahu bagaimana caranya."

    Budi adalah Kepala Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LM-UI) sejak 2005. Institusi tersebut bergerak pada jasa manajemen, penelitian dan pelatihan. Pada 2007, Citi Foundation-yayasan milik Citi, bank asal Amerika Serikat-memberikan dana sekitar US$45.000 untuk menggelar 'Financial Education for The Poor', dengan menggandeng LM-UI.

    Program pelatihan itu diberikan kepada karyawan BPR, lembaga keuangan mikro (LKM), koperasi serta organisasi independen yang bergerak di sektor bisnis mikro. Mereka akan kembali mengajarkan materi itu kepada nasabah dari segmen masyarakat miskin. Citi Foundation dan LM-UI sama-sama menginginkan perubahan yang lebih baik.

    Tujuan jangka pendek adalah bergantinya pola pikir. Tentu saja, dari si miskin untuk mengelola keuangannya, sedangkan peningkatan kesejahteraan, menjadi target berikutnya. "Ini butuh waktu yang tidak sebentar. Mungkin memerlukan tiga tahun-lima tahun untuk melihat itu," tutur Budi.

    Pada tahun lalu, modul pendidikan berisi soal menganggarkan uang (budgeting) dan menabung (saving). Pelatihan digelar di Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung, dengan 25 peserta dari BPR, LKM, koperasi dan organisasi independen dengan fokus usaha mikro. Citi pun tetap berkomitmen. Yayasan itu kembali menggelontorkan dana US$86.000 tahun ini untuk program serupa.

    Makin miskin

    Shariq Mukhtar, Country Business Manager Citibank N.A, mengatakan masyarakat miskin kini menjadi semakin miskin akibat kesulitan memperoleh uang. Mereka juga dinilai tidak mampu membayar kebutuhan lainnya. Untuk itulah manajemen keuangan harus dimiliki setiap orang, termasuk orang miskin.

    Data Biro Pusat Statistik pada tahun lalu terdapat 37,17 juta orang Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini relatif menurun dibandingkan dengan 2006 yang mencapai 39 juta orang.

    Pendidikan pada 2008 akan menjangkau lebih banyak kota di luar Jawa, yaitu Denpasar, Bali, Makassar, Sulawesi Selatan, dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Tiga kota lainnya akan digelar di Pulau Sumatra. Program itu akan dilakukan pada Juni-Agustus 2008 dengan modul pelatihan serupa, yaitu anggaran keuangan dan menabung.

    Budi pun melakukan standardisasi bagi para pelatih. Selain itu, buku panduan dibuat agar tak cepat lupa. LM-UI juga terbuka untuk menerima pertanyaan dari peserta pendidikan. Efektivitas program, paparnya, paling tidak bisa dilihat keberanian masyarakat miskin meminjam uang di lembaga keuangan.

    Bagaimana dukungan Bank Indonesia?

    Ketut Sanjaya, Direktur Direktorat Pengawasan Bank 2 membacakan sambutan Muliaman Hadad, Deputi Gubernur BI yang berhalangan hadir di acara peluncuran program itu. Bank sentral berharap program tersebut membantu masyarakat untuk membelanjakan uang secara bijak dan ditabung. Sementara perbankan, ungkap dia, diharapkan tak hanya melayani warga kaya. Ini yang disebutnya 'keseimbangan'.

    "Salah satu pilar perbankan adalah memberikan edukasi bagi nasabah," tegas Ketut. "Ini untuk jembatan nasabah-bank agar tidak terjadi eksploitasi."

    Kesuksesan itu tak hanya ditunggu LM-UI dan Citi. Susi Yulinda, Koordinator LSM Pendampingan Masyarakat Miskin di Bandung, mengungkapkan organisasi tersebut melatih warga binaannya untuk bertransaksi simpan-pinjam.

    Ini dilakukan setelah mendapat pelatihan LM-UI. Namun Susi maklum, keberhasilan tak dapat dicapai dalam kurun waktu singkat. Sesingkat pelatihan yang berlangsung tiga hari.

    "Ini belum dapat dilihat," tuturnya. (19) (anugerah.perkasa@bisnis.co.id)

    Oleh Anugerah Perkasa
    Wartawan Bisnis Indonesia