| PT Bank Pan Indonesia Tbk Cash management untuk bisnis dan pengusaha |
| Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta sesak dengan manusia. Mukmin Ali Gunawan, Chairperson Panin Group tampak sibuk menebar senyum kepada para undangan yang berdatangan. Tampak mitra aliansinya, Managing Director Asia Pacific ANZ Banking Group Alex Thursby. Panin dan ANZ sudah 13 tahun bermitra. Bank terbesar di Australia itu memiliki 30% saham PT Bank Panin Indonesia Tbk. Persekutuan pertama terjadi saat keduanya juga mendirikan PT ANZ Panin Bank, sebuah bank campuran di mana ANZ mengendalikan 85% saham. Namun, hajatan pada malam itu, Kamis 17 Juli, bukan soal aliansi mendirikan bank lagi. Bank Panin hendak memperkenalkan PaninCashManagement, solusi pengelolaan keuangan untuk bisnis ataupun individu pengusaha. Kehadiran ANZ, tentu bisa mendongkrak pamor acara. Manajemen bank terbesar ketujuh tersebut, mengundang hampir seluruh nasabah utamanya. Konon, 3.000 undangan disebar, doorprize berupa emas batangan disiapkan. Ini memang soal bisnis, tak salah apabila pemanis dibubuhkan agar tampak memikat. Dari sisi produk, cash management sebenarnya bukan mainan baru bagi perbankan. Namun, melalui relasi baiknya dengan ANZ ditambah jaringan kantor yang luas, Bank Panin yakin bisa memberikan 'rasa layanan berbeda' dibandingkan dengan lembaga keuangan sejenis yang lebih dahulu menggarap bisnis ini. Seperti kata Direktur Ritel Bank Panin Ken Ng, layanan cash management dikemas secara khusus dalam rangka membantu nasabah mengelola arus kas dan arus informasi transaksi keuangan. "Dengan didukung lebih dari 300 jaringan, PaninCashManagement otomatis bisa melayani perusahaan ataupun invididu pengusaha di berbagai wilayah Tanah Air," tuturnya, berpromosi. Apabila membalik memori, aksi Bank Panin memberikan layanan cash management ini adalah buntut transformasi perusahaan dalam 10 tahun terakhir. Setelah sempoyongan akibat krisis ekonomi pada 1998, bank ini banting setir untuk mulai melakukan diversifikasi usaha dengan memperkecil bisnis korporasi dan memperbesar sektor komersial dan ritel. Bisnis komersial, misalnya, kini telah menggelembung dan mengontribusi 40% kredit bank tersebut. Bisa dipastikan, Bank Panin memiliki basis nasabah yang lebih besar, dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya yang berkutat di sektor korporasi. Solusi finansial Ken mengakui untuk saat ini target utama penjualan produk cash management adalah nasabah existing sebelum ekspansi mengejar nasabah baru. "Kami ingin menyediakan satu paket solusi finansial yang komplet, platform terintegrasi dan aman, keandalan serta ketepatan, risiko yang minimal, serta administrasi yang rapi." Pilihan untuk menjadikan nasabah kredit sebagai sasaran nasabah cash management sangat masuk akal. Ibaratnya seperti berburu di kebun binatang, bank hanya memerlukan energi yang minimal untuk mendapatkan hasil optimal. Tinggal dipilih. Strategi ini sebenarnya bukan monopoli Bank Panin. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, misalnya, secara terang-terangan menyatakan akan mengejar 35 juta nasabahnya saat mulai menjalankan bisnis kartu kredit. Menjaring nasabah baru? Tentu saja tetap bisa dilakukan secara paralel. Menurut Ken, kebutuhan sebuah perusahaan ataupun pengusaha untuk mengelola keuangan secara efisien dan mudah kini tak bisa ditawar lagi. Dinamika bisnis juga menuntut segala macam transaksi diselesaikan lebih cepat, karena detik demi detik sangat berharga. Urusan transaksi bisnis juga tidak sebatas payroll, menyelesaikan pembelian barang jasa, penerimaan kas hingga pembayaran internasional dan domestik. Perusahaan dan pengusaha kini juga membutuhkan solusi investasi tingkat lanjut untuk dana-dana idle mereka. Sedikitnya enam fasilitas kini telah tersedia dalam PaninCashManagement yakni Account Payable Management, Account Receivable Management, Payroll, Cash Pick Up & Delivery Services, Liquidity Management, dan Delivery Channels. Account Payable Management, misalnya, tersedia untuk mengatur pembayaran utang-utang nasabah dengan berbagai fasilitas seperti pindah buku, pembayaran domestik dan internasional, serta melalui cek. agi nasabah yang memerlukan pengelolaan likuiditas tersedia dua solusi mumpuni yakni sweeping/cash concentration dan investasi. Menurut Ken, sweeping cocok bagi perusahaan yang memiliki banyak cabang dan banyak rekening untuk kemudian disatukan dalam sebuah rekening induk. Untuk investasi, Bank Panin bersedia memfasilitasi nasabah dalam memilih berbagai instrumen terbaik. Nasabah juga bisa memilih jangka waktu investasi yang sesuai. Misalnya, dana baru akan digunakan satu bulan ke depan, maka dalam periode tersebut investasi dilakukan. Satu hal yang tak kalah penting dalam bisnis cash management adalah saluran distribusi (delivery channels), yakni jaringan yang digunakan untuk pelayanan. Saat ini tersedia, tujuh sistem saluran pelayanan yakni Bisnet Panin, Internet Panin, Mobile Panin, Call Panin, ATM Panin, dan -tentu saja-cabang. Bank Panin telah berani memecah kebuntuan, dengan cara total terjun menekuni bisnis cash management. Kendati sedikit telat, belum tentu bank ini akan terus ketinggalan mengingat mereka punya jejak rekam mengesankan saat menapaki bisnis baru. (hery.trianto@bisnis.co.id) Hery Trianto |
Senin, 04 Agustus 2008
Cash management untuk bisnis dan pengusaha
Awas, aksi pialang 'hitam'
| Manajemen |
| Minggu, 03/08/2008 |
| Awas, aksi pialang 'hitam' |
| Maksud hati menjadikan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) tempat berdagang kontrak berjangka komoditas dan menjadi sarana lindung nilai, yang justru marak adalah transaksi valuta asing (valas) dan indeks saham asing. Transaksi komoditas berjangka dengan underlying komoditas primer di BBJ mempunyai payung hukum yang jelas yakni UU No.32/1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi dan Keputusan Presiden No.119/2001 tentang Komoditi Yang Dapat Dijadikan Subjek Kontrak Berjangka. Kini yang justru marak adalah transaksi valas dan indeks saham asing. Padahal dua instrumen itu tidak ada dalam dua suprastruktur tersebut. Transaksi miliaran rupiah itu hanya dilegalkan dengan Surat Keputusan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komodti (Bappebti) No.55/2005 yang kemudian direvisi menjadi No.58/2006 mengenai transaksi valas dan indeks saham asing melalui sistem perdagangan alternatif (SPA) Perdagangan valas melalui SPA inilah yang menuai banyak kecaman dari berbagai pihak lantaran belum ada payung hukum yang kuat untuk melindungi nasabah. Hal itu mendorong pialang berbuat 'nakal' dalam transaksi valas. Imbasnya nasabah dirugikan. Sepanjang 2006 hingga pertengahan tahun ini Bappebti telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari para nasabah dari 64 pialang. Namun baru 20% yang berhasil diselesaikan Bappebti dengan total pengembalian hingga Rp12 miliar. Sisanya masih diproses, ditindaklanjuti, menggantung, atau bisa jadi tidak diurus. Salah satu yang mengalami nasib sial adalah Dedi. Dia mulai tertarik menanamkan modalnya ke salah satu perusahaan pialang yang sempat dibekukan oleh BBJ. Pada 7 Maret setahun yang lalu, dia diajak dua rekannya mengikuti presentasi yang dilakukan oleh senior business manager (SBM) dan overseas consultant (OC) pialang tersebut. Saat penjelasan sebelum dimulainya simulasi transaksi, baik SBM dan OC menyatakan transaksi nanti akan selalu profit dan tidak mungkin merugi. "Alasannya sih sistem dari mereka [pialang] sudah memproteksi agar investor atau klien tidak mungkin merugi, hanya saja investasinya harus besar, kalau kecil susah dapat keuntungan yang besar," ujarnya. Singkat cerita dari simulasi yang diatur sedemikian persuasif itu akhirnya para nasabah termasuk dirinya tergiur untuk berinvestasi dan diminta menyetorkan dana keesokan harinya pada 8 Maret. Pihak pialang juga mengatakan dana akan disimpan di segregate account atau rekening terpisah melalui bank yang sudah ditercatatkan di Bursa dan Kliring. Anehnya, kata Dedi, surat perjanjian (agreement) masih kosong sementara dana sudah ditransfer. Siapa nyana selama proses transaksi, seringkali OC dan SBM memberikan informasi dan petunjuk mengarah pada kerugian. Sementara apabila transaksi Dedi berpeluang profit maka sistem komputer selalu delay beberapa menit sehingga tetap saja merugi. Buntutnya, dia kehilangan Rp100 juta. Nasib yang sama dialami Dwi. Pada 12 Juli tahun lalu dia menyetorkan US$30.000 ke rekening terpisah Bank Niaga. Dengan iming-iming akan mendapat bonus PDA (personal data assistant), dia diminta menyetorkan dana lagi US$30.000. OC saat itu mengatakan data dapat diambil kembali sewaktu-waktu dan tidak diikutsertakan dalam transaksi. Tidak diduga OC dan SBM melakukan transaksi di luar kesepakatan sehingga klien mengalami kerugian. Dua kisah ini merupakan sekelumit dari ratusan aduan yang masih terkatung-katung. Lembaga Perjuangan Hak Konsumen Indonesia (LPHKI) mencatat hingga bulan ini sudah ada 66 pengaduan dari tujuh perusahaan pialang berjangka. Lalu bagaimana kita sebagai calon investor mengamankan dana di bursa berjangka? (redaksi@bisnis.co.id) M. Tahir Saleh |
Niken Rachmad
| Kisah Sukses | ||||||||||||||||
| Minggu, 03/08/2008 | ||||||||||||||||
| Niken Rachmad Nothing to loose | ||||||||||||||||
| Banyak cinta ditujukan Niken Rachmad untuk dunia komunikasi. Jalan hidup dan kesempatan yang terbuka lebar membawanya terjun ke dunia tersebut. Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk ini sedari dulu memang banyak berkecimpung dalam hal pembentukan citra khususnya citra korporasi. Padahal, bidang yang digeluti sekarang jauh melenceng dari ilmu yang ditimbanya di bangku kuliah. Istri Kristiawan Rachmad ini lulusan jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada. Dia menceburkan diri ke dunia komunikasi bukan tanpa alasan. Menurut dia, komunikasi memegang peran kunci dalam banyak hal, misalnya membantu perusahaan dalam memasarkan produk. Namun, komunikasi harus dipadukan dengan mawas diri, sehingga amat penting mengetahui keunggulan produk luar dalam, dan mencermati waktu. Pihak yang melepas ke pasaran juga harus bijak untuk memadukan berbagai hal tersebut ke dalam strategi pencitraan. "Positioning sangat penting untuk membidik yang kita tuju." Dia menganalogikan hal ini ke dalam fenomena yang ada sekarang. Dalam pemikirannya, para tokoh yang yang akan melaju ke pemilihan umum harus menyadari bahwa target pemilih yang bisa disasar sangat luas. Mereka, menurut dia, harus pintar-pintar mewujudkan visinya ke depan melalui sarana yang pas. Untuk itu, peran pembentuk citra sangat diperlukan di sini. Di samping itu, bangsa ini juga harus lebih menguatkan posisi di mata dunia. Beragam kebudayaan harus lebih diperkenalkan di kancah internasional, sehingga masalah batik yang dipatenkan negara lain tidak menular ke kebudayaan Indonesia lainnya. Citra Sampoerna Di babak lain, Niken yang sudah 11 tahun bergabung di perseroan, bersama tim berhasil melambungkan citra Sampoerna menjadi perusahaan yang bertanggung jawab. Dia bilang butuh sekitar sembilan tahun untuk mewujudkan citra tersebut, sejak Sampoerna melangkah menjadi perusahaan terbuka pada 1991. Dulu banyak orang menganggap Sampoerna perusahaan besar dan kaya, hanya sebatas itu. Perseroan tidak mau hanya dikenal sebatas itu, maka Niken dan tim pun bekerja keras merubah dan pada akhirnya berhasil, klaimnya. Menjadi Direktur Komunikasi perusahaan terbuka menurutnya amat sulit sekaligus menantang. Dengan sekuat tenaga komunikasi perusahaan dijaganya selalu transparan, baik yang mengalir ke pemangku kepentingan, pemegang saham, maupun media massa. "Kalau ada kerugian kami terbuka, kami juga menjelaskan bahwa mengembalikan keadaan memerlukan waktu. Kami selalu membuka diri kepada semua pihak yang ingin menanyakan," katanya. Ibu dua anak ini belajar banyak dari pengalamannya saat menjadi konsultan dan kiprah di dunia jurnalistik dan humas dalam mengelola arus komunikasi perusahaan sebesar Sampoerna. "Pengalaman adalah guru yang paling baik, itu mematangkan saya." Bisa dibilang Niken kenyang pengalaman di dunia jurnalistik dan humas. Karier jurnalistiknya cukup lama. Dia sempat menjadi jurnalis dan penyiar ABC Australia selama dua tahun dan tiga tahun di Voice of America - Washington DC. Dia sangat menikmati profesi jurnalisnya. Sebagai jurnalis dia bisa menceritakan semua kejadian yang dia liput ke seluruh dunia. Itu salah satu momentum yang paling membanggakannya, menjadi jurnalis di negeri orang, sementara belum banyak orang Indonesia yang melakoninya saat itu. Sekembali ke Indonesia pada 1974, banyak kawan Niken berprofesi di dunia periklanan. Dia pun tidak mau melepas kesempatan untuk mencoba, lantas dia dan beberapa teman membuat divisi humas guna membantu klien menangkal isu negatif. Seterusnya dia aktif di dunia humas, dan sempat dua tahun menjabat Kepala Divisi Kreatif PT Citra Lintas Indonesia. Tidak hanya itu, dia pernah memegang jabatan penting sebagai Managing Director Indo-Ad Public Relations selama delapan tahun hingga akhirnya berlabuh di Sampoerna. "Saya sempat bertanya apakah humas cocok dengan apa yang saya mau, tetapi saya coba jalani dengan nothing to loose. Hasilnya semua berjalan lancar." Semuanya dipelajari secara otodidak, dan Niken belajar sedikit-sedikit. Sebagai contoh, pada 1980-an dirinya belajar menyelenggarakan ajang promosi produk baru. Dengan bermunculan beragam kegiatan, fungsi humas menjadi amat penting. Seiring waktu mulai bermunculaan tokoh humas dan konsultan di bidang komunikasi. Dunia komunikasi mulai menggeliat sejak dua dekade belakangan, Niken beruntung menjadi salah satu pionir bidang tersebut. Komunikasi berkembang pesat sebagai ilmu dan aplikasi sejalan dengan besarnya kebutuhan akan pencitraan yang canggih dan strategis di Tanah Air.(redaksi@bisnis.co.id) Noerma Komalasari | ||||||||||||||||
Simon & Jahja CFO terbaik
| Keuangan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| MEDIASI Simon & Jahja CFO terbaik |
| JAKARTA: Simon Mawson, Chief Financial Officer PT Astra International Tbk mendapatkan penghargaan sebagai CFO terbaik versi majalah Finance Asia 2008. Posisi kedua diraih Jahja Setiaatmadja yang sekarang menjabat Wadirut PT Bank Central Asia Tbk. Jahja menyampaikan terpilihnya sebagai CFO terbaik versi Finance Asia 2008 karena dianggap para investor di kawasan Asia masih menjabat pada posisi tersebut. "Padahal pada 2005 saya sudah menjabat Wadirut BCA. Tetapi, mungkin mereka menilainya kinerja sebelumnya. Jadi, ya saya bersyukur saja atas penganugerahan ini, karena berkompetisi dengan ratusan perusahaan publik di Indonesia," paparnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin. Dalam kesempatan itu, juga diberikan anugerah kepada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebagai bank terbaik, Danareksa Sekuritas sebagai sekuritas terbaik. Bank Mandiri terpilih menjadi Best Change Management, Bank Danamon sebagai Best Trade Finance Bank dan BCA sebagai Best Foreign Exchange Bank. (Bisnis/11) |
Pengalihan personel BPKP kontraproduktif
| Ekonomi Makro |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Pengalihan personel BPKP kontraproduktif |
| JAKARTA: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menilai usulan Badan Pemeriksa Keuangan atas pengalihan personelnya ke kementerian dan lembaga negara serta pemda merupakan hal yang kontraproduktif. Kepala BPKP Didi Widayadi menegaskan seharusnya dilakukan adalah mengukuhkan BPKP sebagai lembaga audit internal keuangan pemerintah secara penuh guna mengimbangi fungsi BPK selaku audit eksternal. "Kami hanya memiliki 7.000 personel. Padahal kalau dialihkan seperti saran BPK, kebutuhannya hampir sekitar 21.000 orang. Ini menjadi kontraproduktif," tegasnya selepas seminar bertema Pembangunan Aparatur Negara di kantor Bappenas, kemarin. Usul pengalihan personel BPKP ke kementerian dan lembaga (K/L) atau pemda sempat diucapkan Anggota BPK Baharuddin Aritonang. Dia menyatakan optimalisasi fungsi personel BPKP hanya maksimal jika sumber daya manusia di lembaga auditor internal pemerintah itu dialihkan. (Bisnis, 26 Juli) Sebaliknya Didi menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengukuhkan BPKP sebagai lembaga audit internal secara menyeluruh karena fungsi ini sangat logis, seperti juga diterapkan di negara lain. "BPKP akan menjadi lembaga auditor internal [secara penuh] yang melakukan pengawasan dan audit secara akuntabel dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden," tambahnya. Untuk keperluan itu, lanjutnya, pemerintah akan segera mengeluarkan dua peraturan presiden (perpres). Pertama, perpres mengenai sistem pengendalian keuangan internal pemerintah. Kedua, perpres tentang peran BPKP. Oleh Dewi Astuti |
'Asumsi dasar minyak masih bisa berubah'
| Ekonomi Makro |
| Selasa, 05/08/2008 |
| 'Asumsi dasar minyak masih bisa berubah' |
| JAKARTA: Panitia Anggaran DPR menilai asumsi dasar harga minyak dalam RAPBN 2009 dapat kembali berubah karena gejolak harga minyak mentah dunia yang tidak menentu. Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan turunnya permintaan minyak dunia belum diikuti dengan penurunan permintaan dalam negeri. Selain itu, produksi minyak juga tidak menunjukkan peningkatan nyata sehingga pasok dalam negeri masih mengalami kekurangan. "Selama lifting minyak tidak naik secara signifikan Indonesia akan tetap mengalami shortage [kekurangan] atas minyak, tetapi tidak seberat kalau harga minyak naik," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini. Pemerintah belum lama ini kembali mengubah besaran asumsi dasar untuk harga rata-rata minyak mentah dalam negeri pada RAPBN 2009 sebesar US$130 per barel dari perkiraan sebelumnya US$140 per barel. Kendati demikian, pemerintah mempertahankan cara konservatif dengan tetap menyiapkan dana cadangan risiko fiskal dalam RAPBN 2009, untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dunia hingga level US$160 per barel. Ekonom Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kecenderungan harga minyak akan turun tahun depan hingga level US$100-US$ 120 per barel. Angka ini sesuai dengan prediksi OPEC akan menurunnya permintaan minyak dunia hingga 700.000 barel per hari atau menjadi 31,2 juta barel per hari pada tahun depan. "Jadi pemerintah tidak perlu lagi naikkan harga BBM tahun depan," ujarnya kepada Bisnis. Selain itu, lanjutnya, penurunan harga minyak juga akan berpengaruh pada laju inflasi dalam negeri. Dia memperkirakan inflasi akan kembali ke single digit pada Mei 2009. Inflasi realistis Sementara itu, Bank Dunia menyatakan target inflasi Pemerintah Indonesia tahun ini masih realistis dan dicapai dengan kebijakan moneter konvensional seperti kenaikan suku bunga. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg mengatakan tantangan inflasi tinggi tidak hanya membelit Indonesia, melainkan semua negara. Otoritas fiskal dan moneter Indonesia cukup responsif menghadapi tantangan tersebut. "Sejauh ini, BI dan pemerintah melaksanakan kebijakan dengan bagus, kami percaya target inflasi 6,5%-7,5% pada akhir 2009 bisa dicapai," tuturnya kepada pers di Bali, akhir pekan lalu. Inflasi tinggi, ujarnya, saat ini menjadi tantangan sulit bagi semua bank sentral di dunia. (16) (arif.gunawan@bisnis.co.id) Oleh Arif Gunawan S. |
Pembelian unit penyertaan reksa dana melonjak 43,25%
| Bursa | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Selasa, 05/08/2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pembelian unit penyertaan reksa dana melonjak 43,25% | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| JAKARTA: Jumlah pembelian unit pe-nyertaan (subscription) reksa dana pada Juli mencapai Rp9,25 triliun atau melonjak 43,25% dibandingkan dengan Juni Rp6,45 triliun. Padahal volatilitas harga saham dan surat utang masih tinggi. Hal itu ternyata tidak memengaruhi minat pemodal reksa dana untuk menanamkan dananya. Dari data yang dilansir oleh Bapepam-LK jumlah dana kelolaan reksa dana pada Juli mencapai Rp95,36 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian Juni sebesar Rp94,43 triliun. Pemodal tampaknya mulai memanfaatkan momentum menurunnya nilai aktiva bersih (NAB) per unit dengan aksi beli. Akibatnya, jumlah unit reksa dana yang dipasarkan bertambah dari 62,24 miliar pada Juni menjadi 64,3 miliar. Tidak hanya itu, keinginan pemodal meningkatkan investasinya di reksa dana juga ditunjukkan dengan penurunan nilai penarikan (redemption) pada bulan lalu menjadi Rp6,4 triliun dibandingkan dengan Juni Rp6,53 triliun.
Analis senior PT Infovesta Utama Rudiyanto mengatakan pemodal mulai mengubah strategi investasinya dengan menaruh dana ke reksa dana terproteksi dan pasar uang karena memiliki risiko yang relatif aman dibandingkan saham. "Reksa dana terproteksi, pendapatan tetap dan pasar uang akan menjadi incaran pemodal saat ini. Tidak hanya itu, maraknya izin manajer investasi juga menjadi penopang kinerja reksa dana," ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. Dari data Bapepam-LK, pada Juli pemodal pa-ling banyak menanamkan dananya pada reksa dana terproteksi sebesar Rp261,3 miliar, pasar uang Rp96,84 miliar, saham Rp27,66 miliar dan pendapatan tetap Rp14,85 miliar. Pajak obligasi Berkaitan dengan rencana pemerintah me-ngenakan PPh final pada obligasi yang dijadikan aset dasar reksa dana, pelaku industri reksa dana menyarankan agar pemodal tidak panik. "Pemodal tidak usah panik, karena semuanya dalam tahap negosiasi," ujar Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto. Menurut dia, tiga pihak yang terlibat, yaitu Bapepam-LK, Ditjen Pajak, dan pelaku industri reksa dana, sedang mendiskusikan besaran pajak yang akan dikenakan. Direktur Utama PT Lautandhana Investment Ma-nagement Ahmad Subagja mengatakan penge- naan pajak obligasi berpotensi mengurangi minat manajer investasi (MI) untuk membuat produk reksa dana pendapatan tetap, terproteksi, dan pasar uang. "Tahun depan, berapa pun besaran pajak, tentu akan membuat peluncuran reksa dana dengan aset dasar obligasi akan menurun, dan akan membuat reksa dana jenis lain seperti reksa dana saham dan tujuan khusus akan meningkat," ujarnya. Reksa dana tujuan khusus, lanjutnya, atau yang biasa disebut kredit investasi kolektif dengan penyertaan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena MI harus mengumpulkan dana sebesar Rp25 miliar sebelum mengajukan reksa dana tersebut ke Bapepam-LK. Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Andreas M. Gunawidjaja mengatakan pihaknya optimistis kebijakan itu tidak mempngaruhi kinerja reksa dana dengan alasan pemodal lebih pandai dibandingkan dengan ketika terjadi krisis reksa dana pada 2005. "Mungkin efeknya akan terasa dalam waktu singkat karena pajaknya relatif kecil, yang penting jangan panik," ujarnya. (21) (rahayuningsih@bisnis.co.id) Oleh Rahayuningsih | |||||||||||||||||||||||||||||||||
