| Ekonomi Makro |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Pengalihan personel BPKP kontraproduktif |
| JAKARTA: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menilai usulan Badan Pemeriksa Keuangan atas pengalihan personelnya ke kementerian dan lembaga negara serta pemda merupakan hal yang kontraproduktif. Kepala BPKP Didi Widayadi menegaskan seharusnya dilakukan adalah mengukuhkan BPKP sebagai lembaga audit internal keuangan pemerintah secara penuh guna mengimbangi fungsi BPK selaku audit eksternal. "Kami hanya memiliki 7.000 personel. Padahal kalau dialihkan seperti saran BPK, kebutuhannya hampir sekitar 21.000 orang. Ini menjadi kontraproduktif," tegasnya selepas seminar bertema Pembangunan Aparatur Negara di kantor Bappenas, kemarin. Usul pengalihan personel BPKP ke kementerian dan lembaga (K/L) atau pemda sempat diucapkan Anggota BPK Baharuddin Aritonang. Dia menyatakan optimalisasi fungsi personel BPKP hanya maksimal jika sumber daya manusia di lembaga auditor internal pemerintah itu dialihkan. (Bisnis, 26 Juli) Sebaliknya Didi menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengukuhkan BPKP sebagai lembaga audit internal secara menyeluruh karena fungsi ini sangat logis, seperti juga diterapkan di negara lain. "BPKP akan menjadi lembaga auditor internal [secara penuh] yang melakukan pengawasan dan audit secara akuntabel dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden," tambahnya. Untuk keperluan itu, lanjutnya, pemerintah akan segera mengeluarkan dua peraturan presiden (perpres). Pertama, perpres mengenai sistem pengendalian keuangan internal pemerintah. Kedua, perpres tentang peran BPKP. Oleh Dewi Astuti |
Senin, 04 Agustus 2008
Pengalihan personel BPKP kontraproduktif
'Asumsi dasar minyak masih bisa berubah'
| Ekonomi Makro |
| Selasa, 05/08/2008 |
| 'Asumsi dasar minyak masih bisa berubah' |
| JAKARTA: Panitia Anggaran DPR menilai asumsi dasar harga minyak dalam RAPBN 2009 dapat kembali berubah karena gejolak harga minyak mentah dunia yang tidak menentu. Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan turunnya permintaan minyak dunia belum diikuti dengan penurunan permintaan dalam negeri. Selain itu, produksi minyak juga tidak menunjukkan peningkatan nyata sehingga pasok dalam negeri masih mengalami kekurangan. "Selama lifting minyak tidak naik secara signifikan Indonesia akan tetap mengalami shortage [kekurangan] atas minyak, tetapi tidak seberat kalau harga minyak naik," ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini. Pemerintah belum lama ini kembali mengubah besaran asumsi dasar untuk harga rata-rata minyak mentah dalam negeri pada RAPBN 2009 sebesar US$130 per barel dari perkiraan sebelumnya US$140 per barel. Kendati demikian, pemerintah mempertahankan cara konservatif dengan tetap menyiapkan dana cadangan risiko fiskal dalam RAPBN 2009, untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dunia hingga level US$160 per barel. Ekonom Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kecenderungan harga minyak akan turun tahun depan hingga level US$100-US$ 120 per barel. Angka ini sesuai dengan prediksi OPEC akan menurunnya permintaan minyak dunia hingga 700.000 barel per hari atau menjadi 31,2 juta barel per hari pada tahun depan. "Jadi pemerintah tidak perlu lagi naikkan harga BBM tahun depan," ujarnya kepada Bisnis. Selain itu, lanjutnya, penurunan harga minyak juga akan berpengaruh pada laju inflasi dalam negeri. Dia memperkirakan inflasi akan kembali ke single digit pada Mei 2009. Inflasi realistis Sementara itu, Bank Dunia menyatakan target inflasi Pemerintah Indonesia tahun ini masih realistis dan dicapai dengan kebijakan moneter konvensional seperti kenaikan suku bunga. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg mengatakan tantangan inflasi tinggi tidak hanya membelit Indonesia, melainkan semua negara. Otoritas fiskal dan moneter Indonesia cukup responsif menghadapi tantangan tersebut. "Sejauh ini, BI dan pemerintah melaksanakan kebijakan dengan bagus, kami percaya target inflasi 6,5%-7,5% pada akhir 2009 bisa dicapai," tuturnya kepada pers di Bali, akhir pekan lalu. Inflasi tinggi, ujarnya, saat ini menjadi tantangan sulit bagi semua bank sentral di dunia. (16) (arif.gunawan@bisnis.co.id) Oleh Arif Gunawan S. |
Pembelian unit penyertaan reksa dana melonjak 43,25%
| Bursa | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Selasa, 05/08/2008 | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pembelian unit penyertaan reksa dana melonjak 43,25% | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| JAKARTA: Jumlah pembelian unit pe-nyertaan (subscription) reksa dana pada Juli mencapai Rp9,25 triliun atau melonjak 43,25% dibandingkan dengan Juni Rp6,45 triliun. Padahal volatilitas harga saham dan surat utang masih tinggi. Hal itu ternyata tidak memengaruhi minat pemodal reksa dana untuk menanamkan dananya. Dari data yang dilansir oleh Bapepam-LK jumlah dana kelolaan reksa dana pada Juli mencapai Rp95,36 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian Juni sebesar Rp94,43 triliun. Pemodal tampaknya mulai memanfaatkan momentum menurunnya nilai aktiva bersih (NAB) per unit dengan aksi beli. Akibatnya, jumlah unit reksa dana yang dipasarkan bertambah dari 62,24 miliar pada Juni menjadi 64,3 miliar. Tidak hanya itu, keinginan pemodal meningkatkan investasinya di reksa dana juga ditunjukkan dengan penurunan nilai penarikan (redemption) pada bulan lalu menjadi Rp6,4 triliun dibandingkan dengan Juni Rp6,53 triliun.
Analis senior PT Infovesta Utama Rudiyanto mengatakan pemodal mulai mengubah strategi investasinya dengan menaruh dana ke reksa dana terproteksi dan pasar uang karena memiliki risiko yang relatif aman dibandingkan saham. "Reksa dana terproteksi, pendapatan tetap dan pasar uang akan menjadi incaran pemodal saat ini. Tidak hanya itu, maraknya izin manajer investasi juga menjadi penopang kinerja reksa dana," ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. Dari data Bapepam-LK, pada Juli pemodal pa-ling banyak menanamkan dananya pada reksa dana terproteksi sebesar Rp261,3 miliar, pasar uang Rp96,84 miliar, saham Rp27,66 miliar dan pendapatan tetap Rp14,85 miliar. Pajak obligasi Berkaitan dengan rencana pemerintah me-ngenakan PPh final pada obligasi yang dijadikan aset dasar reksa dana, pelaku industri reksa dana menyarankan agar pemodal tidak panik. "Pemodal tidak usah panik, karena semuanya dalam tahap negosiasi," ujar Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto. Menurut dia, tiga pihak yang terlibat, yaitu Bapepam-LK, Ditjen Pajak, dan pelaku industri reksa dana, sedang mendiskusikan besaran pajak yang akan dikenakan. Direktur Utama PT Lautandhana Investment Ma-nagement Ahmad Subagja mengatakan penge- naan pajak obligasi berpotensi mengurangi minat manajer investasi (MI) untuk membuat produk reksa dana pendapatan tetap, terproteksi, dan pasar uang. "Tahun depan, berapa pun besaran pajak, tentu akan membuat peluncuran reksa dana dengan aset dasar obligasi akan menurun, dan akan membuat reksa dana jenis lain seperti reksa dana saham dan tujuan khusus akan meningkat," ujarnya. Reksa dana tujuan khusus, lanjutnya, atau yang biasa disebut kredit investasi kolektif dengan penyertaan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena MI harus mengumpulkan dana sebesar Rp25 miliar sebelum mengajukan reksa dana tersebut ke Bapepam-LK. Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Andreas M. Gunawidjaja mengatakan pihaknya optimistis kebijakan itu tidak mempngaruhi kinerja reksa dana dengan alasan pemodal lebih pandai dibandingkan dengan ketika terjadi krisis reksa dana pada 2005. "Mungkin efeknya akan terasa dalam waktu singkat karena pajaknya relatif kecil, yang penting jangan panik," ujarnya. (21) (rahayuningsih@bisnis.co.id) Oleh Rahayuningsih | |||||||||||||||||||||||||||||||||
Boediono: Masih ada faktor eksternal yang harus diwaspadai
| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Boediono: Masih ada faktor eksternal yang harus diwaspadai BI diminta pertahankan bunga |
| JAKARTA: Tekanan kepada Bank Indonesia untuk menahan kenaikan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur hari ini datang tidak saja dari para ekonom, tetapi juga dari pengusaha hingga Kepala Bappenas. Namun, beberapa ekonom dan bankir memperkirakan bank sentral akan mengerek suku bunga di level 9%, naik 25 basis poin (bps) dari posisi sebelumnya 8,75%. Ini sejalan dengan isyarat Gubernur BI Boediono bila tekanan inflasi masih sangat tinggi, kendati sudah tidak terpengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak. "Kami akan pantau bulan ke bulan dan minggu ke minggu. Mestinya membalik pada bulan kedua setelah kenaikan harga BBM, tetapi tampaknya masih ada faktor eksternal yang harus kita waspadai," papar Boediono, kemarin. Dia meminta pemerintah tetap menjamin kelancaran arus barang yang memengaruhi pasokan. "Ada faktor lain di luar BBM, kelancaran arus barang itu sangat penting." Gubernur BI memperkirakan pada bulan-bulan mendatang ada pembalikan ekspektasi inflasi. "Untuk bulan ini, memang belum kelihatan. Untuk ke depan, saya rasa bisa kita lihat lagi." Senada dengan Boediono, Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom mengisyaratkan BI Rate naik. "Tidak tertutup kemungkinan, tapi kita lihat dulu." Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi tahunan (year-on-year) pada Juli 11,9%, lebih tinggi dibandingkan dengan Juni yang 11,03%. Namun, inflasi bulanan Juli (month-to-month) sebesar 1,33%, turun dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya 2,46%. Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bunga BI Rate 8,75% cukup mengendalikan inflasi. Tingkat bunga itu masih dapat menggerakkan sektor riil, meskipun bunga kredit masih tergolong tinggi. Perlunya mempertahankan BI Rate, menurut dia, sejalan pula dengan rencana kebijakan BI menaikkan giro wajib minimum (GWM), yang berpotensi meningkatkan kredit macet. Paskah berharap bank sentral tidak menerapkan lagi kebijakan keuangan ketat dengan langsung menyesuaikan BI Rate pada setiap ada peningkatan inflasi. "Bisa-bisa bunga bank naik lagi sampai 21%, BI Rate jangan di atas sekarang." Ekonom Kepala BNI Tony Prasetiantono menyatakan setuju dengan proyeksi Bappenas, karena saat ini menaikkan suku bunga belum tentu efektif menekan inflasi. "Karakteristik inflasi bulan ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditas di luar negeri. Saya menilai BI tidak perlu menaikkan bunga." Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Indonesia Aviliani meminta BI sebaiknya mengkaji ulang rencana menaikkan bunga 25 bps dalam menekan inflasi. Pasalnya, sektor riil akan dirugikan dan kemungkinan banyak yang gulung tikar, karena terbebani bunga utang. Ekonom BRI Djoko Retnadi juga meminta hal serupa. "BI sebaiknya memanfaatkan fasilitas lain untuk meredam inflasi. Bisa menggunakan instrumen GWM." Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), menilai semakin tinggi suku bunga akan menyulit industri menurunkan harga barang pokok. "Modal usaha industri sudah naik karena harga BBM sekarang, asalkan jangan BI Rate naik hingga lebih dari 9%. Kalau lebih dari 9%, kami [industri] terbebani suku bunga pinjaman yang sampai 15%. Itu berat," katanya. Naik 25 bps Wakil Dirut Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja memperkirakan BI Rate masih akan naik 25 bps untuk menarik likuiditas di masyarakat. Pasalnya, yang dihadapi industri perbankan saat ini bukanlah gejolak ekonomi global semata, tetapi ancaman krisis likuiditas. Presdir Bank Niaga Hashemi Albakri mengatakan perbankan masih memiliki fundamental yang kuat untuk menahan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps, sehingga apabila itu diperlukan untuk meredam inflasi tidak masalah jika dinaikkan. Analis Credit Suisse Mirza Adityaswara juga memprediksi BI Rate naik 25 bps, mengingat sejumlah bank sudah mulai menaikkan bunga deposito 1 bulan di atas 9%, karena SBI 3 bulan sudah 9,2% dan SBI 6 bulan 9,75%. Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk Tri Joko Prihanto memperkirakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps akan berdampak pada kualitas kredit. Secara terpisah, Selasa waktu setempat, atau Rabu dinihari waktu Indonesia, 10 anggota komite bank sentral AS, yang diketuai oleh Ben S. Bernanke, mengadakan pertemuan untuk menentukan tingkat bunga The Fed dari saat ini 2%. Hasil survei Bloomberg terhadap beberapa ekonom rata-rata memperkirakan The Fed akan mempertahankan bunga. (hery.trianto@bisnis. co.id) Reportase: 11, 16, 17, Erna S. U. Girsang, Fahmi Achmad, Gajah Kusumo Oleh Hery Trianto |
Saatnya investasi di surat utang
| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Saatnya investasi di surat utang |
| Pada Juni lalu saya menulis artikel di Bisnis Indonesia mengenai prediksi analis energi bahwa harga minyak dunia akan anjlok setelah naik tajam. Sejak itu harga minyak (NYMX WTI) melejit dari US$135 ke US$147, sebelum anjlok ke level US$123 per barel dalam waktu dua minggu. Saya berpendapat bahwa dengan turunnya harga minyak, harga komoditas energi lainnya akan ikut turun. Harga batu bara (ICE Rotterdam) pun turun dari US$224 ke US$188 per metric ton, sementara harga gas alam turun dari US$13,5 ke US$9,2 per MMBTU pada Juli. Para analis yang memprediksi turunnya harga energi bukanlah peramal hebat. Mereka hanya mengutarakan logika ekonomi, di mana sewaktu Amerika Serikat mengalami resesi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat-akibatnya pertumbuhan konsumsi energi dunia ikut melambat-semestinya harga energi turun, bukan sebaliknya. Memang, harga komoditas, terutama energi, sempat naik tajam karena investor internasional pesimistis berinvestasi di pasar finansial. Pesimisme ini disebabkan anjloknya pasar saham dunia sejak krisis kredit pemilikan rumah subprime memicu krisis perbankan AS pada triwulan III/2007. Akibatnya, investor menarik dana dari pasar saham dan menginvestasikannya di pasar komoditas seperti minyak, batu bara, dan emas. Di mata investor, kenaikan harga komoditas dianggap mampu melebihi inflasi. Tetapi aksi investor dan spekulator ini justru memicu kenaikan harga komoditas dan inflasi serta memperpuruk harga saham. Tanpa membaliknya kepercayaan investor terhadap pasar finansial, bursa saham dunia akan terus terpuruk. Sejak awal 2008, indeks bursa saham New York telah anjlok 14%, London 17%, Tokyo 13%, Jakarta 17% dan Shanghai 46%. Setiap kali saya bertemu investor dalam sembilan bulan terakhir, mereka mengeluh telah rugi besar, pasrah, takut cut loss (menjual saham di bawah harga beli), marah atau berdoa untuk intervensi Tuhan. Saya belum pernah melihat kepanikan investor separah ini sejak anjloknya bursa saham paska penyerangan teroris ke World Trade Center, New York, pada 11 September 2001. Krisis pasar saham 2008 dipicu oleh krisis perbankan dan resesi ekonomi AS. Krisis perbankan disebabkan penunggakan KPR karena bank sentral AS (Federal Reserve) menaikkan suku bunga Fed Funds target rate (FFTR) dari 1,0% ke 5,25% selama 2004-2006. Menurut International Monetary Fund, penunggakan ini dapat menimbulkan kerugian di perbankan US$950 miliar atau 7% dari besaran ekonomi (produk domestik bruto) AS. Kerugian ini memicu krisis likuiditas antarbank dan anjloknya harga saham perbankan AS, seperti Citibank yang anjlok lebih dari 70%. Masalahnya tidak selesai di sini. Kenaikan suku bunga dan anjloknya harga rumah karena besarnya tunggakan KPR, rakyat AS pun mengerem konsumsinya. Padahal konsumsi masyarakat menggerakkan 70% dari PDB AS. Keadaan ini diperburuk dengan kenaikan harga minyak dan energi serta melambatnya konsumsi masyarakat yang menyebabkan resesi ekonomi. Kondisi ini mengurangi keuntungan sektor korporasi. Kondisi tersebut lalu memukul bursa saham AS dan memicu anjloknya bursa saham dunia, yang diperburuk oleh keluarnya dana investor dari pasar saham ke pasar komoditas. Lengkap sudah krisis ekonomi AS. Krisis finansial AS ibarat bola salju yang hanya bisa direm dengan beberapa syarat. Pertama, dampak krisis perbankan AS harus segera dibatasi. Kedua, keterpurukan sektor properti AS harus dibatasi. Ketiga, kepercayaan investor terhadap pasar finansial harus pulih. Keempat, harga minyak harus turun. Menghadapi krisis ini, Federal Reserve bertindak cepat dengan memangkas FFTR ke level 2,0%, menyelamatkan perusahaan sekuritas Bear Sterns yang hampir bangkrut dan memberi pinjaman ke bank yang kesulitan likuiditas. Depkeu AS menyelamatkan dua perusahaan raksasa (Fannie Mae dan Freddie Mac) yang membiayai atau menjamin hampir separuh total KPR sekitar US$11 triliun. Perbankan menghapusbukukan kerugian US$470 miliar. Walaupun kebijakan ini tidak memberhentikan turunnya harga rumah, bank mulai bisa bernapas. Angin segar datang dengan turunnya harga minyak. Karena harga minyak naik terlalu cepat, maka harganya turun tajam pula setelah spekulator menarik keuntungan dengan melakukan aksi jual. Selain logika ekonomi, alasan turunnya harga minyak adalah mengecilnya kemungkinan AS atau Israel menyerang Iran, penghasil 5% produksi minyak dunia, karena dianggap membuat senjata nuklir secara ilegal. Menurut analis politik, dengan dominasi partai Demokrat di kongres AS, kemungkinan presiden Bush menyerang Iran semakin kecil. Menteri pertahanan dan panglima angkatan bersenjata AS yang dilantik sejak partai Demokrat menguasai kongres pada 2006, secara terbuka juga tidak setuju dengan penyerangan Iran. Untuk sementara, kemungkinan konflik di Timur Tengah mengecil dan ini mendukung turunnya harga minyak, yang menurut survei Bloomberg dapat menyentuh US$114 akhir 2008. Larinya dana investasi Pasar saham dunia akan pulih jika pasar AS pulih, yang diperkirakan terjadi pada triwulan IV/2008, setelah pemilihan presiden dan arah pertumbuhan ekonomi AS 2009 mulai jelas. Kebijakan Federal Reserve dan Depkeu AS untuk meredam krisis perbankan memperkuat kredibilitas mereka. Sementara keputusan perbankan untuk menghapusbukukan kerugian subprime menunjukkan transparansi yang disukai investor. Berbagai tindakan ini saja tidak cukup untuk menggerakan dana investor dari pasar komoditas kembali ke pasar finansial. Pemicu penarikan dana dari pasar komoditas adalah anjloknya harga minyak. Dana ratusan miliar dolar yang keluar dari pasar komoditas ini mencari investasi baru. Pasar saham dunia masih rentan. Yang paling menjanjikan adalah pasar surat utang, terutama surat utang negara (SUN) yang risikonya paling kecil. Indikasinya jelas, karena imbal-hasil (suku bunga) SUN dalam mata uang lokal di beberapa negara turun pesat harga SUN-nya naik dalam beberapa minggu terakhir. Di pasar SUN berjangka 5 tahun saja, pada Juli imbal hasil SUN Brasil turun dari 15% ke 14%, Turki dari 22,5% ke 18,7% dan Indonesia dari 13% ke 11,5%. Berdasarkan skenario ini, investor disarankan tidak membeli komoditas, terutama energi, karena harganya diperkirakan turun terus. Investor sangat disarankan membeli dan meningkatkan portofolio SUN rupiah (atau dalam real Brasil dan lira Turki) ke 30% dalam satu-dua bulan ke depan. Dari tiga negara ini, SUN Indonesia-lah yang paling menarik karena negara yang suku bunganya tinggi tetapi memiliki surplus neraca transaksi berjalan, artinya kemungkinan besar rupiah bisa stabil bahkan berpotensi menguat. Brasil, India, Turki, Pakistan dan Vietnam semua mengalami defisit neraca transaksi berjalan yang membatasi suport untuk mata uangnya. Oleh Fauzi Ichsan |
Akuisisi berlanjut, Maybank rugi US$1 miliar
| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Akuisisi berlanjut, Maybank rugi US$1 miliar |
| JAKARTA: Malayan Banking Berhad (Maybank) kemungkinan kehilangan lebih dari 3,4 miliar ringgit (US$1 miliar) atau setara Rp9,1 triliun jika melanjutkan akuisisi seluruh saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). Maybank membeli 55,6% saham BII dari Sorak Financial Holdings Pte Ltd, konsorsium yang dipimpin oleh Temasek Holdings Pte, senilai US$1,5 miliar atau Rp510 per saham. "Perjanjian itu juga mencakup dana penawaran tender atas saham publik BII yang dipatok Rp510 per saham," ujar sumber yang mengetahui transaksi itu seperti dikutip Bloomberg kemarin. Bank Negara Malaysia (BNM) pada 29 Juli mencabut persetujuan atas rencana Maybank mengakuisisi BII yang telah diberikan pada Maret 2008. Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany mengatakan tidak bisa berkomentar. Salah hitung Presiden Direktur PT Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah menambahkan Maybank seharusnya menghitung untung rugi sebelum memutuskan membeli BII. "Dari awal mereka berpikir akan rugi, sehingga mereka membatalkan akuisisi BII. Hal itu mengindikasikan Maybank salah hitung dalam investasi tersebut," ujarnya. Bursa efek hingga kemarin masih menunggu penjelasan resmi terkait pembatalan akuisisi saham BII. Satu analis saham bank dari broker asing mengatakan dengan berasumsi pada harga akuisisi Rp510 per saham dan 100% saham BII 48,93 miliar saham, berarti potensi kerugian yang diderita Maybank mencapai Rp186 per saham. "Dari kalkulasi itu diketahui nilai fundamental saham BII mencapai Rp324 per saham." Maybank membeli saham BII pada harga Rp510 per saham, mencerminkan price to book value (PBV) 4,7 kali. Menurut dia, apabila Maybank diwajibkan menjual saham BII maksimal dalam dua tahun ke depan, berarti saham itu harus dijual pada PBV di atas 4,7 kali agar memperoleh keuntungan. PBV saham BCA dan BRI, katanya, sekitar 2,5 kali dengan berpatokan pada harga penutupan kemarin. "Bagaimana mungkin Maybank menjual saham BII pada PBV di atas PBV saham kedua bank itu yang kinerjanya jauh lebih solid dari BII? Kecuali manajemen baru BII sangat jago dalam turn around, sehingga menghasilkan kinerja BII yang sangat bagus," katanya. Berdasarkan riset PT Danareksa Sekuritas pada 29 Juli, estimasi PBV BII pada 2010 hanya tiga kali. Dengan harga saat riset itu diterbitkan pada Rp475 per saham, berarti nilai buku BII Rp158,33 per saham. Jika Maybank membeli saham BII dan harus menjual dalam dua tahun ke depan pada harga Rp510 per saham, berarti PBV saham BII harus mencapai minimal 3,22 kali. (sylviana.pravita@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id) Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya |
Kamis, 24 Juli 2008
Seputara Unit Link Product
Selamat siang Pak Daniell,
Kalo boleh sy ikut nimbrung....
Walaupun saya tau disini banyak didebatkan ttg kerugian UL, sebagai salah seorang agen Prudential (jeleknya : tidak ambisius dalam mengejar target), saya akan coba bantu menjelaskan pertanyaan bapak sebisa sy.
Karena dasarnya sebagai perusahaan asuransi, maka produk utamanya tetap asuransi jiwa. Bila bapak ikut yang bayarnya berjangka (bulanan, 3bln, 6bln, 12bln) dinamakan PAA (Prulink Assurance Account), bila bapak ikut yang bayarnya hanya 1x selama jadi nasabah min.Rp12juta dinamakan PIA atau Prulink Investor account. Dari sana dapat ditentukan UP atau uang pertanggungannya berapa.
Sedangkan yg bapak sebutkan berikutnya itu sebagai rider/tambahan. Biasanya paket rider yang ditawarkan adalah :
1.Critis Cover /PCC : Selama periode kontrak bilamana nasabah didiagnosa mendapat 1 dari 34 jenis penyakit kritis yang telah ditentukan Pru, maka uangnya dpt diambil u/pengobatan (bila setoran 350rb/bln mungkin bs dapat 30-50jt) dan selanjutnya karena telah sakit kritis (artinya tdk bs bekerja) bapak tidak perlu setor yg 350rb/bulan, sebaliknya niat bapak untuk investasi diteruskan oleh pru sebesar rp350/bl sampai bpk usia 65 tahun, yang uang hasil investnya bisa diambil kapan saja (tergantung saldo tentunya). Dan bila setelah sakit bpk diobati kemudian sembuh pun dan bisa bekerja kembali, bapak tetap tidak perlu bayar lagi yg 350rb/bln itu. biaya asuransinya kecil kalo 30jt sekitar 3-5rb/bulan. kalo setelah sakit nasabah meninggal, maka uang pertanggungannya dikurangi 30jt ini. Misal up (uang pertangguangan) 200jt, karena sdh diambil 30jt, saat meninggal warisan buat keluarganya 170jt. Kalo rider yang diambil critis cover benefit syariah, maka walo sdh diambil uangnya, tdk mengurangi jumlah up. Tp biaya asuransinya mgkn lebih tinggi dibanding critis cover doang.
2. Personal Accident Death & disable/PADD : Meninggal/cacat tetap karena kecelakaan. Bila nasabah mengalami cacat tetap (2 anggota tubuh tidak berfungsi) asuransinya 10% dari jumlah total. Bila nasabah meninggal karena kecelakaan maka uang yang didapat bukan hanya up 200jt tapi plus uang padd misal 150jt shg total = 350jt. Biaya asuransi lumayan besar, mgkn sktr 25rb-an
3. Pru-Medical : bisa claim stlh rawat inap (max.100hari/ th). ini biaya asuransinya cukup besar. Jd untuk yg dicover oleh persh-nya saya bikinkan kecil saja misal Rp280rb/hari. Krn kita
4. Pru payor : ini lah yang membiayai saat nasabah terkena sakit kritis, nasabah bayar biayanya u/antisipasi kena penyakit tsb shg nanti Pru sbg pembayar storan bulanan berikutnya
mgkn sy agen yg tidak bagus, karena hny membuatkan 4 point itu saja. Itu krn sy pikir buat apa bayar besar biaya asuransi terus, mending dibanyakin ke investasinya. ya..walo komisi yg sy dpt jd kecil.. krn komisi
memang u/besar setorannya, akan tergantung sekali pada usia, merokok/tdk merokok. minimal 300rb bisa kalo dibawah 30th. Sy sih banyaknya ya kisaran 300-350rb itu, karena kemampuan nasabahnya memang segitu. Tp sy senang bisa mengajak mereka u/ikut asuransi dan berinvestasi.
Dan spt pak Rian bilang, u/nasabah prudential skrg bisa akses sendiri tuk cek posisi polis nya via internet dg password pribadi. Praktis
So..bapak ga salah koq pilih prudential. Dgn RBC yg besar, reputasi bagus, pengalaman 1,5 abad lebih..sy pikir ini pilihan yg bagus. Saya pikir tidak perlu risau takut bangkrut, kalo pun sampai terjadi, prudential sendiri
Jadi kalo ada yg mau masuk via sy, dgn senang hati akan sy bantu.
