| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Boediono: Masih ada faktor eksternal yang harus diwaspadai BI diminta pertahankan bunga |
| JAKARTA: Tekanan kepada Bank Indonesia untuk menahan kenaikan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur hari ini datang tidak saja dari para ekonom, tetapi juga dari pengusaha hingga Kepala Bappenas. Namun, beberapa ekonom dan bankir memperkirakan bank sentral akan mengerek suku bunga di level 9%, naik 25 basis poin (bps) dari posisi sebelumnya 8,75%. Ini sejalan dengan isyarat Gubernur BI Boediono bila tekanan inflasi masih sangat tinggi, kendati sudah tidak terpengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak. "Kami akan pantau bulan ke bulan dan minggu ke minggu. Mestinya membalik pada bulan kedua setelah kenaikan harga BBM, tetapi tampaknya masih ada faktor eksternal yang harus kita waspadai," papar Boediono, kemarin. Dia meminta pemerintah tetap menjamin kelancaran arus barang yang memengaruhi pasokan. "Ada faktor lain di luar BBM, kelancaran arus barang itu sangat penting." Gubernur BI memperkirakan pada bulan-bulan mendatang ada pembalikan ekspektasi inflasi. "Untuk bulan ini, memang belum kelihatan. Untuk ke depan, saya rasa bisa kita lihat lagi." Senada dengan Boediono, Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom mengisyaratkan BI Rate naik. "Tidak tertutup kemungkinan, tapi kita lihat dulu." Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi tahunan (year-on-year) pada Juli 11,9%, lebih tinggi dibandingkan dengan Juni yang 11,03%. Namun, inflasi bulanan Juli (month-to-month) sebesar 1,33%, turun dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya 2,46%. Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bunga BI Rate 8,75% cukup mengendalikan inflasi. Tingkat bunga itu masih dapat menggerakkan sektor riil, meskipun bunga kredit masih tergolong tinggi. Perlunya mempertahankan BI Rate, menurut dia, sejalan pula dengan rencana kebijakan BI menaikkan giro wajib minimum (GWM), yang berpotensi meningkatkan kredit macet. Paskah berharap bank sentral tidak menerapkan lagi kebijakan keuangan ketat dengan langsung menyesuaikan BI Rate pada setiap ada peningkatan inflasi. "Bisa-bisa bunga bank naik lagi sampai 21%, BI Rate jangan di atas sekarang." Ekonom Kepala BNI Tony Prasetiantono menyatakan setuju dengan proyeksi Bappenas, karena saat ini menaikkan suku bunga belum tentu efektif menekan inflasi. "Karakteristik inflasi bulan ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditas di luar negeri. Saya menilai BI tidak perlu menaikkan bunga." Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Indonesia Aviliani meminta BI sebaiknya mengkaji ulang rencana menaikkan bunga 25 bps dalam menekan inflasi. Pasalnya, sektor riil akan dirugikan dan kemungkinan banyak yang gulung tikar, karena terbebani bunga utang. Ekonom BRI Djoko Retnadi juga meminta hal serupa. "BI sebaiknya memanfaatkan fasilitas lain untuk meredam inflasi. Bisa menggunakan instrumen GWM." Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), menilai semakin tinggi suku bunga akan menyulit industri menurunkan harga barang pokok. "Modal usaha industri sudah naik karena harga BBM sekarang, asalkan jangan BI Rate naik hingga lebih dari 9%. Kalau lebih dari 9%, kami [industri] terbebani suku bunga pinjaman yang sampai 15%. Itu berat," katanya. Naik 25 bps Wakil Dirut Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja memperkirakan BI Rate masih akan naik 25 bps untuk menarik likuiditas di masyarakat. Pasalnya, yang dihadapi industri perbankan saat ini bukanlah gejolak ekonomi global semata, tetapi ancaman krisis likuiditas. Presdir Bank Niaga Hashemi Albakri mengatakan perbankan masih memiliki fundamental yang kuat untuk menahan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps, sehingga apabila itu diperlukan untuk meredam inflasi tidak masalah jika dinaikkan. Analis Credit Suisse Mirza Adityaswara juga memprediksi BI Rate naik 25 bps, mengingat sejumlah bank sudah mulai menaikkan bunga deposito 1 bulan di atas 9%, karena SBI 3 bulan sudah 9,2% dan SBI 6 bulan 9,75%. Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk Tri Joko Prihanto memperkirakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps akan berdampak pada kualitas kredit. Secara terpisah, Selasa waktu setempat, atau Rabu dinihari waktu Indonesia, 10 anggota komite bank sentral AS, yang diketuai oleh Ben S. Bernanke, mengadakan pertemuan untuk menentukan tingkat bunga The Fed dari saat ini 2%. Hasil survei Bloomberg terhadap beberapa ekonom rata-rata memperkirakan The Fed akan mempertahankan bunga. (hery.trianto@bisnis. co.id) Reportase: 11, 16, 17, Erna S. U. Girsang, Fahmi Achmad, Gajah Kusumo Oleh Hery Trianto |
Senin, 04 Agustus 2008
Boediono: Masih ada faktor eksternal yang harus diwaspadai
Saatnya investasi di surat utang
| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Saatnya investasi di surat utang |
| Pada Juni lalu saya menulis artikel di Bisnis Indonesia mengenai prediksi analis energi bahwa harga minyak dunia akan anjlok setelah naik tajam. Sejak itu harga minyak (NYMX WTI) melejit dari US$135 ke US$147, sebelum anjlok ke level US$123 per barel dalam waktu dua minggu. Saya berpendapat bahwa dengan turunnya harga minyak, harga komoditas energi lainnya akan ikut turun. Harga batu bara (ICE Rotterdam) pun turun dari US$224 ke US$188 per metric ton, sementara harga gas alam turun dari US$13,5 ke US$9,2 per MMBTU pada Juli. Para analis yang memprediksi turunnya harga energi bukanlah peramal hebat. Mereka hanya mengutarakan logika ekonomi, di mana sewaktu Amerika Serikat mengalami resesi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat-akibatnya pertumbuhan konsumsi energi dunia ikut melambat-semestinya harga energi turun, bukan sebaliknya. Memang, harga komoditas, terutama energi, sempat naik tajam karena investor internasional pesimistis berinvestasi di pasar finansial. Pesimisme ini disebabkan anjloknya pasar saham dunia sejak krisis kredit pemilikan rumah subprime memicu krisis perbankan AS pada triwulan III/2007. Akibatnya, investor menarik dana dari pasar saham dan menginvestasikannya di pasar komoditas seperti minyak, batu bara, dan emas. Di mata investor, kenaikan harga komoditas dianggap mampu melebihi inflasi. Tetapi aksi investor dan spekulator ini justru memicu kenaikan harga komoditas dan inflasi serta memperpuruk harga saham. Tanpa membaliknya kepercayaan investor terhadap pasar finansial, bursa saham dunia akan terus terpuruk. Sejak awal 2008, indeks bursa saham New York telah anjlok 14%, London 17%, Tokyo 13%, Jakarta 17% dan Shanghai 46%. Setiap kali saya bertemu investor dalam sembilan bulan terakhir, mereka mengeluh telah rugi besar, pasrah, takut cut loss (menjual saham di bawah harga beli), marah atau berdoa untuk intervensi Tuhan. Saya belum pernah melihat kepanikan investor separah ini sejak anjloknya bursa saham paska penyerangan teroris ke World Trade Center, New York, pada 11 September 2001. Krisis pasar saham 2008 dipicu oleh krisis perbankan dan resesi ekonomi AS. Krisis perbankan disebabkan penunggakan KPR karena bank sentral AS (Federal Reserve) menaikkan suku bunga Fed Funds target rate (FFTR) dari 1,0% ke 5,25% selama 2004-2006. Menurut International Monetary Fund, penunggakan ini dapat menimbulkan kerugian di perbankan US$950 miliar atau 7% dari besaran ekonomi (produk domestik bruto) AS. Kerugian ini memicu krisis likuiditas antarbank dan anjloknya harga saham perbankan AS, seperti Citibank yang anjlok lebih dari 70%. Masalahnya tidak selesai di sini. Kenaikan suku bunga dan anjloknya harga rumah karena besarnya tunggakan KPR, rakyat AS pun mengerem konsumsinya. Padahal konsumsi masyarakat menggerakkan 70% dari PDB AS. Keadaan ini diperburuk dengan kenaikan harga minyak dan energi serta melambatnya konsumsi masyarakat yang menyebabkan resesi ekonomi. Kondisi ini mengurangi keuntungan sektor korporasi. Kondisi tersebut lalu memukul bursa saham AS dan memicu anjloknya bursa saham dunia, yang diperburuk oleh keluarnya dana investor dari pasar saham ke pasar komoditas. Lengkap sudah krisis ekonomi AS. Krisis finansial AS ibarat bola salju yang hanya bisa direm dengan beberapa syarat. Pertama, dampak krisis perbankan AS harus segera dibatasi. Kedua, keterpurukan sektor properti AS harus dibatasi. Ketiga, kepercayaan investor terhadap pasar finansial harus pulih. Keempat, harga minyak harus turun. Menghadapi krisis ini, Federal Reserve bertindak cepat dengan memangkas FFTR ke level 2,0%, menyelamatkan perusahaan sekuritas Bear Sterns yang hampir bangkrut dan memberi pinjaman ke bank yang kesulitan likuiditas. Depkeu AS menyelamatkan dua perusahaan raksasa (Fannie Mae dan Freddie Mac) yang membiayai atau menjamin hampir separuh total KPR sekitar US$11 triliun. Perbankan menghapusbukukan kerugian US$470 miliar. Walaupun kebijakan ini tidak memberhentikan turunnya harga rumah, bank mulai bisa bernapas. Angin segar datang dengan turunnya harga minyak. Karena harga minyak naik terlalu cepat, maka harganya turun tajam pula setelah spekulator menarik keuntungan dengan melakukan aksi jual. Selain logika ekonomi, alasan turunnya harga minyak adalah mengecilnya kemungkinan AS atau Israel menyerang Iran, penghasil 5% produksi minyak dunia, karena dianggap membuat senjata nuklir secara ilegal. Menurut analis politik, dengan dominasi partai Demokrat di kongres AS, kemungkinan presiden Bush menyerang Iran semakin kecil. Menteri pertahanan dan panglima angkatan bersenjata AS yang dilantik sejak partai Demokrat menguasai kongres pada 2006, secara terbuka juga tidak setuju dengan penyerangan Iran. Untuk sementara, kemungkinan konflik di Timur Tengah mengecil dan ini mendukung turunnya harga minyak, yang menurut survei Bloomberg dapat menyentuh US$114 akhir 2008. Larinya dana investasi Pasar saham dunia akan pulih jika pasar AS pulih, yang diperkirakan terjadi pada triwulan IV/2008, setelah pemilihan presiden dan arah pertumbuhan ekonomi AS 2009 mulai jelas. Kebijakan Federal Reserve dan Depkeu AS untuk meredam krisis perbankan memperkuat kredibilitas mereka. Sementara keputusan perbankan untuk menghapusbukukan kerugian subprime menunjukkan transparansi yang disukai investor. Berbagai tindakan ini saja tidak cukup untuk menggerakan dana investor dari pasar komoditas kembali ke pasar finansial. Pemicu penarikan dana dari pasar komoditas adalah anjloknya harga minyak. Dana ratusan miliar dolar yang keluar dari pasar komoditas ini mencari investasi baru. Pasar saham dunia masih rentan. Yang paling menjanjikan adalah pasar surat utang, terutama surat utang negara (SUN) yang risikonya paling kecil. Indikasinya jelas, karena imbal-hasil (suku bunga) SUN dalam mata uang lokal di beberapa negara turun pesat harga SUN-nya naik dalam beberapa minggu terakhir. Di pasar SUN berjangka 5 tahun saja, pada Juli imbal hasil SUN Brasil turun dari 15% ke 14%, Turki dari 22,5% ke 18,7% dan Indonesia dari 13% ke 11,5%. Berdasarkan skenario ini, investor disarankan tidak membeli komoditas, terutama energi, karena harganya diperkirakan turun terus. Investor sangat disarankan membeli dan meningkatkan portofolio SUN rupiah (atau dalam real Brasil dan lira Turki) ke 30% dalam satu-dua bulan ke depan. Dari tiga negara ini, SUN Indonesia-lah yang paling menarik karena negara yang suku bunganya tinggi tetapi memiliki surplus neraca transaksi berjalan, artinya kemungkinan besar rupiah bisa stabil bahkan berpotensi menguat. Brasil, India, Turki, Pakistan dan Vietnam semua mengalami defisit neraca transaksi berjalan yang membatasi suport untuk mata uangnya. Oleh Fauzi Ichsan |
Akuisisi berlanjut, Maybank rugi US$1 miliar
| Halaman Depan |
| Selasa, 05/08/2008 |
| Akuisisi berlanjut, Maybank rugi US$1 miliar |
| JAKARTA: Malayan Banking Berhad (Maybank) kemungkinan kehilangan lebih dari 3,4 miliar ringgit (US$1 miliar) atau setara Rp9,1 triliun jika melanjutkan akuisisi seluruh saham PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). Maybank membeli 55,6% saham BII dari Sorak Financial Holdings Pte Ltd, konsorsium yang dipimpin oleh Temasek Holdings Pte, senilai US$1,5 miliar atau Rp510 per saham. "Perjanjian itu juga mencakup dana penawaran tender atas saham publik BII yang dipatok Rp510 per saham," ujar sumber yang mengetahui transaksi itu seperti dikutip Bloomberg kemarin. Bank Negara Malaysia (BNM) pada 29 Juli mencabut persetujuan atas rencana Maybank mengakuisisi BII yang telah diberikan pada Maret 2008. Ketua Bapepam-LK Ahmad Fuad Rahmany mengatakan tidak bisa berkomentar. Salah hitung Presiden Direktur PT Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah menambahkan Maybank seharusnya menghitung untung rugi sebelum memutuskan membeli BII. "Dari awal mereka berpikir akan rugi, sehingga mereka membatalkan akuisisi BII. Hal itu mengindikasikan Maybank salah hitung dalam investasi tersebut," ujarnya. Bursa efek hingga kemarin masih menunggu penjelasan resmi terkait pembatalan akuisisi saham BII. Satu analis saham bank dari broker asing mengatakan dengan berasumsi pada harga akuisisi Rp510 per saham dan 100% saham BII 48,93 miliar saham, berarti potensi kerugian yang diderita Maybank mencapai Rp186 per saham. "Dari kalkulasi itu diketahui nilai fundamental saham BII mencapai Rp324 per saham." Maybank membeli saham BII pada harga Rp510 per saham, mencerminkan price to book value (PBV) 4,7 kali. Menurut dia, apabila Maybank diwajibkan menjual saham BII maksimal dalam dua tahun ke depan, berarti saham itu harus dijual pada PBV di atas 4,7 kali agar memperoleh keuntungan. PBV saham BCA dan BRI, katanya, sekitar 2,5 kali dengan berpatokan pada harga penutupan kemarin. "Bagaimana mungkin Maybank menjual saham BII pada PBV di atas PBV saham kedua bank itu yang kinerjanya jauh lebih solid dari BII? Kecuali manajemen baru BII sangat jago dalam turn around, sehingga menghasilkan kinerja BII yang sangat bagus," katanya. Berdasarkan riset PT Danareksa Sekuritas pada 29 Juli, estimasi PBV BII pada 2010 hanya tiga kali. Dengan harga saat riset itu diterbitkan pada Rp475 per saham, berarti nilai buku BII Rp158,33 per saham. Jika Maybank membeli saham BII dan harus menjual dalam dua tahun ke depan pada harga Rp510 per saham, berarti PBV saham BII harus mencapai minimal 3,22 kali. (sylviana.pravita@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id) Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya |
Kamis, 24 Juli 2008
Seputara Unit Link Product
Selamat siang Pak Daniell,
Kalo boleh sy ikut nimbrung....
Walaupun saya tau disini banyak didebatkan ttg kerugian UL, sebagai salah seorang agen Prudential (jeleknya : tidak ambisius dalam mengejar target), saya akan coba bantu menjelaskan pertanyaan bapak sebisa sy.
Karena dasarnya sebagai perusahaan asuransi, maka produk utamanya tetap asuransi jiwa. Bila bapak ikut yang bayarnya berjangka (bulanan, 3bln, 6bln, 12bln) dinamakan PAA (Prulink Assurance Account), bila bapak ikut yang bayarnya hanya 1x selama jadi nasabah min.Rp12juta dinamakan PIA atau Prulink Investor account. Dari sana dapat ditentukan UP atau uang pertanggungannya berapa.
Sedangkan yg bapak sebutkan berikutnya itu sebagai rider/tambahan. Biasanya paket rider yang ditawarkan adalah :
1.Critis Cover /PCC : Selama periode kontrak bilamana nasabah didiagnosa mendapat 1 dari 34 jenis penyakit kritis yang telah ditentukan Pru, maka uangnya dpt diambil u/pengobatan (bila setoran 350rb/bln mungkin bs dapat 30-50jt) dan selanjutnya karena telah sakit kritis (artinya tdk bs bekerja) bapak tidak perlu setor yg 350rb/bulan, sebaliknya niat bapak untuk investasi diteruskan oleh pru sebesar rp350/bl sampai bpk usia 65 tahun, yang uang hasil investnya bisa diambil kapan saja (tergantung saldo tentunya). Dan bila setelah sakit bpk diobati kemudian sembuh pun dan bisa bekerja kembali, bapak tetap tidak perlu bayar lagi yg 350rb/bln itu. biaya asuransinya kecil kalo 30jt sekitar 3-5rb/bulan. kalo setelah sakit nasabah meninggal, maka uang pertanggungannya dikurangi 30jt ini. Misal up (uang pertangguangan) 200jt, karena sdh diambil 30jt, saat meninggal warisan buat keluarganya 170jt. Kalo rider yang diambil critis cover benefit syariah, maka walo sdh diambil uangnya, tdk mengurangi jumlah up. Tp biaya asuransinya mgkn lebih tinggi dibanding critis cover doang.
2. Personal Accident Death & disable/PADD : Meninggal/cacat tetap karena kecelakaan. Bila nasabah mengalami cacat tetap (2 anggota tubuh tidak berfungsi) asuransinya 10% dari jumlah total. Bila nasabah meninggal karena kecelakaan maka uang yang didapat bukan hanya up 200jt tapi plus uang padd misal 150jt shg total = 350jt. Biaya asuransi lumayan besar, mgkn sktr 25rb-an
3. Pru-Medical : bisa claim stlh rawat inap (max.100hari/ th). ini biaya asuransinya cukup besar. Jd untuk yg dicover oleh persh-nya saya bikinkan kecil saja misal Rp280rb/hari. Krn kita
4. Pru payor : ini lah yang membiayai saat nasabah terkena sakit kritis, nasabah bayar biayanya u/antisipasi kena penyakit tsb shg nanti Pru sbg pembayar storan bulanan berikutnya
mgkn sy agen yg tidak bagus, karena hny membuatkan 4 point itu saja. Itu krn sy pikir buat apa bayar besar biaya asuransi terus, mending dibanyakin ke investasinya. ya..walo komisi yg sy dpt jd kecil.. krn komisi
memang u/besar setorannya, akan tergantung sekali pada usia, merokok/tdk merokok. minimal 300rb bisa kalo dibawah 30th. Sy sih banyaknya ya kisaran 300-350rb itu, karena kemampuan nasabahnya memang segitu. Tp sy senang bisa mengajak mereka u/ikut asuransi dan berinvestasi.
Dan spt pak Rian bilang, u/nasabah prudential skrg bisa akses sendiri tuk cek posisi polis nya via internet dg password pribadi. Praktis
So..bapak ga salah koq pilih prudential. Dgn RBC yg besar, reputasi bagus, pengalaman 1,5 abad lebih..sy pikir ini pilihan yg bagus. Saya pikir tidak perlu risau takut bangkrut, kalo pun sampai terjadi, prudential sendiri
Jadi kalo ada yg mau masuk via sy, dgn senang hati akan sy bantu.
Kamis, 12 Juni 2008
Pejabat Depkeu tinggalkan BUMN
| Kamis, 12/06/2008 |
| Pejabat Depkeu tinggalkan BUMN |
| JAKARTA: Para pejabat eselon I di Departemen Keuangan beramai-ramai melepaskan jabatan sebagai komisaris di sejumlah BUMN dengan alasan menjalankan reformasi birokrasi. Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan untuk menghindari konflik kepentingan, seluruh pejabat Depkeu konsisten menjaga amanah jabatan. Dia mengingatkan reformasi birokrasi bertujuan menata staf Depkeu untuk memiliki kepastian dalam menjalankan tugas sekaligus kewajaran dalam hal penghasilan. "Mereka patut mendapatkan remunerasi yang cukup. Tapi yang lebih penting lagi, mereka tidak mendapatkan beban tugas yang lain," tutur Menkeu kemarin. Kesediaan melepas jabatan rangkap pertama kali disampaikan Dirjen Pajak Darmin Nasution di hadapan wartawan. Dia mundur dari posisi komisaris utama PT Bursa Efek Indonesia yang baru dijabat beberapa hari. Darmin mengaku telah mengkaji kembali posisinya sebagai komisaris utama BEI, meski persoalan rangkap jabatan itu masih bisa diperdebatkan. "Ada yang bilang bisa, tapi situasi ini bukan sekadar soal benar atau tidak benar. Situasi ini perlu wisdom lebih. [Dengan] kebijaksanaan yang lebih tinggi, mendukung reformasi yang kita laksanakan, jadi saya akan mengundurkan diri," ujar Darmin. Masalah jabatan rangkap kembali mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempertanyakan aturan ini kepada Kementerian Negara BUMN. Selain ketidakwajaran jumlah penghasilan, KPK juga menyoroti conflict of interest yang timbul dari jabatan rangkap. Menjawab permintaan KPK itu, Depkeu dan Kementerian Negara BUMN sepakat mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) tentang aturan rangkap jabatan pada bulan ini (Bisnis, 7 Juni). Keputusan Darmin itu diikuti oleh sejumlah pejabat eselon I Depkeu. Sekjen Depkeu Mulia Nasution yang ditemui seusai rapat Panitia Anggaran DPR menegaskan, "Semua [pejabat eselon I Depkeu] tanpa kecuali." Dirjen Anggaran Depkeu Achmad Rochjadi mengaku akan mundur dari jabatan Komisaris PT Pertamina. "Kami semua juga ikut. Arahnya seperti itu." Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengungkapkan dia jauh lebih awal mundur dari jabatan komisaris di salah satu BUMN (PT Krakatau Steel) sejak 1 Juni 2008. Selain karena alasan reformasi birokrasi, kode etik di Ditjen Bea dan Cukai membuat Anwar ikhlas melepas posisi penting di luar tugas kesehariannya sebagai pejabat eselon I Depkeu. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu Anggito Abimanyu berjanji segera mengajukan pengunduran diri melalui RUPS PT Telkom Tbk. Dia juga meminta BUMN itu menggunakan gajinya yang tidak diambil sejak program reformasi birokrasi diterapkan untuk program kegiatan bina lingkungan. "Saya akan mundur secara kesatria, sooner or later." Dirjen Perbendaharaan Negara Herry Purnomo menyatakan mundur dari jabatan komisaris PT Pos Indonesia. Begitu pula Dirjen Perimbangan Keuangan Mardiasmo yang mundur dari jabatan komisaris utama PT Jasa Raharja. "Jika itu memang keputusan pimpinan, kami mengikutinya," ujarnya kepada Bisnis, tadi malam. Pernyataan senada disampaikan oleh Dirjen Kekayaan Negara Hadiyanto yang menjabat komisaris utama PT Garuda Indonesia dan komisaris Bank Tabungan Pensiunan Nasional. Kepala Bapepam-LK Fuad Rachmany dan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto tidak mengangkat telepon saat dikonfirmasi Bisnis. Tugas negara Sebaliknya, Kementerian Negara BUMN justru mengisyaratkan akan mempertahankan sejumlah pejabatnya yang menjadi komisaris di perusahaan negara. Sekretaris Kementerian Negara BUMN M. Said Didu mengatakan penetapan komisaris di perusahaan pelat merah merupakan penugasan dari negara. "Penetapan komisaris berbasis asas manfaat bagi negara, karena kami harus menjaga kepentingan negara yang ada di beberapa perusahaan milik negara," ujarnya kepada Bisnis, tadi malam. Said memastikan tidak ada penempatan komisaris di BUMN yang melanggar ketentuan. "Penempatan komisaris BUMN mengacu pada regulasi yang berlaku, baik di pasar modal dan perbankan maupun di sejumlah tempat lain." Dia menjelaskan ada penempatan komisaris yang bersifat sementara, mengingat kinerja BUMN yang jelek, sehingga diperlukan orang yang bisa mengawasi perusahaan tersebut. (16) (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id/aprilian.hermawan@bisnis.co.id) Oleh Ahmad Muhibbuddin, M. Munir Haikal & Aprilian Hermawan |
Manajer Investasi Tinggalkan Reksa Dana Saham
| Bursa | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kamis, 12/06/2008 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| MI tinggalkan reksa dana saham | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| JAKARTA: Pelaku industri reksa dana mulai mengurangi peluncuran produk baru reksa dana, menyusul tingginya volatilitas pergerakan saham di bursa. Faktor risiko investasi mengubah peta industri tersebut. Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) per Mei menyebutkan tren penerbitan produk baru reksa dana tahun ini bergeser dari reksa dana saham ke reksa dana terproteksi. Hingga akhir Mei, manajer investasi (MI) menerbitkan sebelas produk reksa dana terproteksi, sehingga total produk ini yang beredar di pasar sebanyak 37. Di sisi lain, reksa dana saham baru hanya diluncurkan dua MI, yakni PT Trimegah Securities Tbk dan PT Fortis Investment Management. Analis senior reksa dana PT Infovesta Utama Rudiyanto menilai perubahan angin investasi pasar modal mengubah orientasi penjualan produk reksa dana baru. Terlebih, otoritas pasar modal kini mengharuskan produk baru memiliki dana kelolaan minimum Rp25 miliar dalam 90 hari.
"Pelaku industri tentu saja melihat tren pasar. Kalau MI nekat menjual produk reksa dana saham, tapi ternyata tidak laku, ya repot karena tidak bisa memenuhi ketentuan Bapepam-LK," tuturnya kepada Bisnis, kemarin. Krisis keuangan dan kenaikan harga minyak mentah dunia, lanjutnya, membuat profil risiko investasi saham meningkat, yang dibarengi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi di pasar surat utang. Para MI mengoptimalkan yield sebagai kelebihan instrumen investasi surat utang, untuk mengoptimalkan keuntungan investasi (return) terutama ketika mendekati jatuh tempo. "Yang membedakan investasi saham dan obligasi adalah faktor jatuh tempo. Ketika obligasi mendekati jatuh tempo, harganya akan naik ke titik 100 [par]. Kondisi itu dimanfaatkan MI dengan menerbitkan reksa dana terproteksi," tutur Rudiyanto. MI, tambahnya, bisa menggunakan sebagian dana investasi di obligasi untuk dibelanjakan ke instrumen investasi lain seperti saham atau pasar uang. Tumbuh pesat Rudiyanto menambahkan meski tren penerbitan reksa dana saham mulai surut di pasar, tetapi perkembangan lini produk tersebut terhitung pesat. Pada akhir 2006, hanya ada sekitar 30 produk reksa dana saham, yang kini telah meningkat dua kali lipat menjadi 61 produk. "Dilihat dari sisi nilai aktiva bersih [NAB], produk ini tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan produk reksa dana lain," ujarnya. Data Bapepam-LK menyebutkan NAB reksa dana saham kini masih menduduki posisi terbesar, yakni Rp35,41 triliun. Reksa dana terproteksi hanya membukukan Rp19,6 triliun, disusul reksa dana pendapatan tetap Rp17,18 triliun. Analis Fixed Income PT Panin Sekuritas Benjamin Siahaan mengatakan tren kenaikan suku bunga (BI Rate) saat ini akan mendorong para investor memborong produk reksa dana terproteksi, karena memberikan jaminan proteksi capital. "Dengan kenaikan inflasi, investor mencari produk investasi lain yang memberikan return tinggi, dan relatif aman. Reksa dana terproteksi akan menjadi salah satu pilihan menarik," ujarnya awal pekan ini. (arif.gunawan@bisnis.co.id) Oleh Arif Gunawan S. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Selasa, 18 Maret 2008
Menkeu : Risiko krisis di AS sangat serius
| Halaman Depan |
| Selasa, 18/03/2008 |
| Menkeu: Risiko krisis di AS sangat serius |
| JAKARTA: Risiko krisis ekonomi di Amerika Serikat dinilai sudah sangat serius dan dapat mengubah seluruh proyeksi pertumbuhan ekonomi di dunia, di AS sendiri, dan Asia, termasuk Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai situasi ini dapat membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 6,4% seperti yang diasumsikan dalam RAPBN-P 2008. Dia mengatakan pengumuman penurunan suku bunga diskonto yang dilakukan bank sentral AS, pada Minggu, yang merupakan hari libur, menggambarkan ancaman terhadap ekonomi AS sangat serius. "Pertumbuhan 6,4% dengan risiko ke bawah lebih besar daripada risiko netralnya," katanya, saat rapat kerja dengan DPR, kemarin. Dalam kondisi seperti ini, potensi terjadinya lonjakan harga produk di pasar akan sangat besar. Kenaikan harga ini terutama berpotensi terhadap barang-barang yang tidak diproteksi pemerintah. "Ini sedikit banyak akan menggerus daya beli masyarakat." Bisa membengkak Menkeu juga merujuk prediksi sejumlah kalangan memperkirakan kerugian sektor keuangan AS akibat subprime mortgage bisa mencapai Rp1.000 triliun dan jumlah ini bisa membengkak hingga Rp3.000 triliun. Padahal, angka perkiraan itu menggunakan asumsi paling pesimistis. Jika ini terjadi, krisis subprime telah mencapai 30% dari total produk domestik bruto AS yang mencapai Rp12.000 triliun. Menghadapi situasi yang serba tidak pasti ini, lanjut Menkeu, pemerintah melihat perlunya melanjutkan penyusunan APBN-P dengan menggunakan asumsi-asumsi yang pasti untuk memudahkan pengelolaan. Dalam pembahasan RAPBN-P 2008 dengan Panja Asumsi dan Penerimaan Panitia Anggaran DPR, pertumbuhan ekonomi disepakati 6,4%. Dalam APBN 2008, pemerintah mematok pertumbuhan 6,8%. (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id) Oleh Ahmad Muhibbuddin |
