Senin, 07 Januari 2008

Malaysia batasi beli minyak goreng

Perdagangan
Senin, 07/01/2008
KUOTA
Malaysia batasi beli minyak goreng
KUALA LUMPUR: Warga Malaysia sejak akhir Desember 2007 hingga awal Januari 2008 memborong minyak goreng di berbagai supermarket karena isu harganya akan naik, sehingga pemerintah Malaysia kemudian membatasi pembelian komoditas itu.

Beberapa warga Malaysia mengatakan penimbunan stok minyak goreng dilakukan karena harganya diperkirakan naik minggu depan terkait dengan kenaikan tarif jalan tol dan harga BBM.

Seorang pengusaha Bernard Lim, yang membeli 15 botol isi lima kg minyak goreng di sebuah hipermarket, mengatakan kepada The Star,"Saya memborong karena rumors harga minyak goreng akan naik minggu depan."

Hal serupa banyak dilakukan warga Malaysia walaupun Departemen Perdagangan Dalam Negeri telah membatasi pembelian minyak goreng maksimal lima kg minyak goreng mulai minggu depan.

Beberapa hipermarket seperti Carrefour, Tesco, dan Jusco telah membatasi pembelian maksimal lima botol/lima kg minyak goreng per orang. (Antara)

Waspadai inflasi & kenaikan harga minya : BI Rate diprediksi stagnan

Halaman Depan
Senin, 07/01/2008
Waspadai inflasi & kenaikan harga minyak
BI Rate diprediksi stagnan
JAKARTA: BI Rate diperkirakan tetap tertahan pada posisi 8%, kendati ada tekanan kenaikan laju inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia pada awal tahun yang sempat menyentuh angka US$100 per barel.

Bank sentral besok mengagendakan penentuan tingkat suku bunga acuan periode Januari 2008. Setelah menahan BI Rate pada level 8,25%, rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulan lalu menurunkan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 8%.

Ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) Djoko Retnadi mengatakan belum ada variabel yang kuat untuk mendukung bank sentral kembali menurunkan acuan bunga bank ke level yang lebih rendah dari posisi sekarang.

Di sisi lain, tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia belum bisa menjadi referensi yang kuat bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut. Angka inflasi pada Desember 2007 tercatat 1,1%, lebih tinggi dari November, yakni sebesar 0,18%.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia yang sempat naik dan menyentuh level US$100 per barel pada Kamis pekan lalu, kembali turun menjadi US$97,91 per barel pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG), yang sempat turun ke level 2.715, kembali menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu ke level 2.765,19.

Djoko menilai tidak ada urgensi BI Rate diturunkan karena bunga bank sudah rendah. Bunga bank saat ini maksimal 15% dan dan rata-rata 11%-12%, terutama untuk kredit usaha besar. "Saya cenderung melihat BI Rate tertahan pada level 8%," katanya, kemarin.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Moneter Budi Mulya ketika dikonfirmasi Bisnis menyebutkan RDG besok akan me-review apa yang dilakukan sebelumnya dan langkah ke depan. "Apa dan bagaimananya, nanti saja dalam RDG."

Dia menjelaskan bank sentral akan memantau perkembangan harga minyak mentah dunia saat ini dan kecenderungan ke depan, termasuk kondisi perekonomian global, selain tetap melihat kondisi perekonomian nasional.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah memberikan sinyal kemungkinan tetap menahan acuan bunga pada level 8%. Dia mengingatkan meskipun inflasi ditekan menjadi 5%, BI Rate tidak otomatis turun menjadi 5%.

Ekonom Citigroup Anton Gunawan mengatakan ada dua kemungkinan keputusan yang terjadi dalam RDG. Pertama, tidak ada pemangkasan suku bunga mengingat ekspektasi inflasi masih tinggi saat ini dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kedua, BI akan mengabaikan ekspektasi kenaikan inflasi dan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin guna memperkecil selisih dengan bunga pasar semalam (overnight) sebelum mengeluarkan kebijakan SBI Overnight.

Namun, Anton menyarankan bank sentral semertinya fokus dalam mencapai target inflasi dan mempertahankan BI Rate pada level 8%. Rencana untuk menggunakan SBI Overnight perlu dilanjutkan.

Ekonom Indef Iman Sugema mengatakan peluang bank sentral menurunkan suku bunga acuan tetap terbuka lebar. "Namun, BI terlalu hati-hati, sehingga untuk Januari BI Rate akan tetap tertahan seperti bulan lalu."

Iman menilai tekanan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, terutama minyak mentah dunia, tidak bisa dikendalikan oleh kebijakan moneter. Di sisi lain, kelebihan likuiditas perbankan terlalu besar. "Padahal, tidak ada gunanya BI Rate tinggi," ujarnya.

Berpeluang naik

Di sisi lain, Ekonom Bank Negara Indonesia Ryan Kiryanto berpenda-pat bank sentral sebaiknya tidak mengubah bunga yang saat ini tercatat 8% sambil menunggu perkembangan inflasi hingga Maret 2008.

Dia menilai BI Rate tahun ini justru berpeluang naik di atas 8% jika melihat kecenderungan inflasi yang tinggi, yakni di atas 6%. Hal ini karena faktor internal, yakni kenaikan harga BBM dan terganggunya distribusi barang.

Kenaikan inflasi, menurut Ryan, didorong oleh faktor eksternal, yakni kenaikan harga minyak mentah dunia yang diperkirakan berlanjut pada tahun ini. "Koordinasi yang solid antara bank sentral dan pemerintah c.q. tim ekonomi kabinet dalam mengendalikan inflasi sangat menentukan tren suku bunga acuan ke depan."

Di sisi lain, kalangan perbankan mengakui peluang BI menurunkan suku bunga sangat kecil. Sebaliknya, potensi naik justru terbuka.

Dirut Bank NISP Pramukti Surjaudaja mengatakan bank sentral diharapkan menahan suku bunga. "Kondisi BI Rate saat ini sudah baik sekali. Bank sentral bakan seharusnya bisa menjaga bagaimana agar BI Rate tetap stabil, karena dengan bertahan pad level seperti ini [8%], ekspansi kredit tetap besar dan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik."

Direktur UKM dan Syariah BNI Bien Subiantoro mengatakan ekspansi perbankan berpeluang melampaui proyeksi tahun ini. Hal ini karena suku bunga acuan telah memberikan optimisme kepada bank untuk menurunkan bunga bank.

Suku bunga perbankan rata-rata 11%-15%. Dengan BI Rate tahun ini stabil pada 8%, bank bisa menurunkan bunga tertingginya dari 15% menjadi 12% yang didorong oleh semakin kecilnya NPL, katanya. (10/ hery trianto) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia


sasaran inflasi 2008-2010 & upaya pencapaiannya

Halaman Depan
Senin, 07/01/2008
Sasaran inflasi 2008-2010 & upaya pencapaiannya
Sehari setelah pembukaan pasar perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) dan penyerahan DIPA 2008, pemerintah dan Bank Indonesia sepakat menetapkan sasaran inflasi 2008-2010 sebesar 5% untuk 2008; 4,5% (2009); dan 4% (2010) dengan deviasi ñ 1%. Target inflasi 2008 yakni 5% ñ 1 tersebut sesuai dengan target APBN 2008 yakni 6%.

Penetapan sasaran inflasi ini akan menjadi rujukan bagi BI dalam melaksanakan kebijakan moneter dan juga disampaikan dengan harapan akan dapat menjangkar ekspektasi masyarakat dan akan menjadi acuan pengambil kebijakan dan para pelaku ekonomi.

Seperti hal-hal lainnya, penetapan sasaran inflasi itu tak luput dari penilaian sejumlah kalangan. Responsnya pun beragam, ada yang melihat secara positif ataupun negatif. Bahkan, ada yang menyebut sasaran ini tidak realistis. Benarkah demikian? Mari kita melihatnya secara seksama.

Inflasi merupakan cerminan dari peristiwa ekonomi dan memengaruhi banyak aspek dalam perekonomian Indonesia. Salah satunya, inflasi merupakan cerminan dari peristiwa moneter.

Inflasi biasanya memiliki kaitan yang erat dengan jumlah uang beredar. Bila uang beredar berada dalam kisaran yang besar, situasi ini biasanya akan mendorong inflasi.

Selain itu, inflasi juga dapat mencerminkan terjadinya situasi kelangkaan pasokan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat sehingga harga barang menjadi naik (inflasi).

Hal mutlak

Dampak utama yang ditimbulkan inflasi adalah pengaruhnya bagi kesejahteraan rakyat. Inflasi yang tinggi tanpa diimbangi kenaikan pendapatan masyarakat, hal itu akan mendorong terjadinya penurunan tingkat kesejahteraan.

Dalam level tertentu, bahkan bisa mendorong terjadinya peningkatan angka kemiskinan.

Oleh karenanya, pengendalian inflasi pada level yang tepat menjadi sesuatu yang mutlak. Pengendalian inflasi pun perlu dilakukan secara terpadu antara pemerintah dan BI.

Pemerintah fokus pada aspek pembenahan di sektor riil, misalnya, dengan menjamin pasokan barang dan jasa, membenahi distribusi, dan lain-lain, sementara bank sentral fokus pada kebijakan moneternya, baik yang menyangkut uang beredar maupun nilai tukar.

Jika melihat pencapaian 2007, inflasi IHK (indeks harga konsumen) tercatat 6,59%, di mana angka ini masih berada dalam sasaran inflasi 2007 yakni 6% dengan deviasi 1%.

Penurunan inflasi volatile food memberikan kontribusi penting pada tercapainya sasaran inflasi 2007, meskipun masih dalam level yang relatif tinggi. Penurunan inflasi volatile food ini terutama disebabkan terkendalinya harga beras.

Sementara itu, untuk inflasi kelompok administered prices memang sedikit meningkat dibandingkan dengan 2006 di mana peningkatan ini lebih didorong oleh penerapan beberapa kebijakan non strategis seperti cukai rokok, tarif PAM, tarif tol, dan faktor nonkebijakan terkait dengan kelangkaan minyak tanah.

Inflasi inti juga mengalami peningkatan berkaitan dengan meningkatnya tekanan dari imported inflation. Walaupun ekspektasi inflasi cenderung stabil, tetapi masih berada pada level yang tinggi, sedangkan tekanan inflasi dari output gap masih minimal sejalan dengan respons yang memadai sisi penawaran terhadap peningkatan permintaan.

Meskipun target tercapai, sumbangan inflasi noninti (noncore) dalam pembentukan inflasi 2007 cukup besar, walaupun core inflation masih tetap merupakan sumber inflasi terbesar, sebagaimana juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Jika kita melihat ke belakang, berdasarkan data historis selama 30 tahun terakhir, tingkat inflasi di Indonesia persisten pada level yang cukup tinggi, sekitar 7%. Namun, pencapaian inflasi pada level 5% bukannya tidak pernah terjadi. Misalnya, pada 2003 dimana inflasi tercatat 5,04 %. Kenyataan ini menunjukkan bahwa target 5%, bukan sesuatu yang tidak mungkin dicapai.

Jika melihat dari dekomposisinya, inflasi yang terjadi selama ini lebih didominasi oleh core inflation. Konsisten dengan hal ini, sumber inflasi yang utama selama ini adalah ekspektasi, nilai tukar, dan base money growth.

Persistensi inflasi yang tinggi ini sangat terkait erat dengan ekspektasi inflasi yang selama ini masih bersifat backward looking. Hal ini terlihat dalam keseharian di dunia usaha yang selalu menaikkan gaji pegawai sekitar 10% dari tahun sebelumnya tanpa mempertimbangkan berapa laju inflasi.

Lima syarat

Dengan kondisi dekomposisi inflasi yang seperti ini, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kondisi yang diperlukan dalam mendukung pencapaian sasaran inflasi 2008-2010 tersebut?

Pada dasarnya terdapat lima kondisi yang dibutuhkan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi tersebut. Pertama, kemampuan dalam menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan (output gap).

Kedua, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Ketiga, menjaga agar ekspektasi inflasi berada pada level yang rendah. Keempat, meminimalisasikan dampak administered price. Kelima, menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi volatile food.

Terkait dengan kelima kondisi inilah, kebijakan penetapan dan pengendalian inflasi selalu dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah dan Bank Indonesia. Pemerintah dan BI pun sangat menyadari akan hal ini. Pemantauan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi tersebut harus dilakukan dengan cermat termasuk juga dalam rangka koordinasi pengendalian inflasi di tingkat daerah.

Memang harus diakui masih terdapat beberapa risiko yang mungkin dihadapi pada 2008 yang dapat memberikan tekanan pada inflasi sehingga berpotensi mengganggu pencapaian sasaran inflasi tersebut.

Risiko tersebut di antaranya adalah (i) proses konsolidasi pasar finansial global terkait dampak krisis subprime mortgage masih belum dapat dipastikan mereda, (ii) risiko terkait kenaikan harga minyak dunia, (iii) potensi peningkatan permintaan konsumsi minyak domestik di atas asumsi terutama yang dipicu oleh tingginya disparitas harga BBM bersubsidi dengan BBM nonsubsidi maupun harga BBM di negara tetangga, (iv) kemampuan produksi minyak domestik yang tidak sesuai target dan (v) persepsi pelaku ekonomi terhadap prospek kesinambungan fiskal dan prospek perekonomian secara keseluruhan terkait dampak kenaikan harga minyak dunia.

Sementara itu, kemajuan implementasi terhadap paket kebijakan investasi termasuk proyek infrastruktur untuk mendorong masuknya foreign direct investment (FDI) dan juga dampak gangguan pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok yang pada proyeksi ini diasumsikan masih minimal. Sehingga, kenaikan investasi yang diproyeksikan terjadi, khususnya pada tahun 2008 ini, diperkirakan tidak akan terlalu memberikan tekanan terhadap kenaikan inflasi.

Sinergi kebijakan

Kata kunci untuk mengantisipasi berbagai macam risiko itu adalah sinergi kebijakan, baik dari sisi pemerintah sebagai otoritas fiskal dan BI sebagai otoritas moneter. Sinergi kebijakan dalam rangka antisipasi inflasi ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang menyatakan pengendalian inflasi akan dilakukan dalam suatu forum yang dikoordinasi oleh Menko Perekonomian, yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Menteri Perdagangan, dan menteri-menteri terkait.

Dapat disimpulkan, antisipasi terhadap segala risiko dalam pencapaian sasaran inflasi telah dilakukan sejak dini baik oleh pemerintah maupun BI. Diharapkan dengan berbagai langkah ini akan dapat mendeteksi segala permasalahan sejak dini dan dapat melakukan pilihan kebijakan yang tepat dalam memecahkan permasalahan yang ada.

Akhirnya, dukungan dari semua pihak juga sangat dibutuhkan untuk mencapai target tersebut. Mari kita masuki 2008 dengan optimisme, meski tetap waspada terhadap segala kemungkinan negatif yang bisa saja terjadi. Selamat Tahun Baru 2008.

Oleh Anggito Abimanyu & Andie Megantara
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu

Indeks Saham

Halaman Depan
Senin, 07/01/2008
INDEKS SAHAM

Bursa Saham Dunia
JAKARTA (Bisnis): Perubahan indeks saham dunia per 4 Januari 2008 sebagai berikut:
Index 3 Jan 4 Jan +/-(%)
IHSG 2.715,06 2.765,19 + 50,13 1,85
Hangseng 26.887,28 27.519,69 + 632,41 2,35
KLSE 1.435,38 1.466,67 + 31,29 2,18
Nikkei * 15.307,78 14.691,41 - 616,37 4,03
SET 832,63 821,71 - 10,92 1,31
STI 3.397,06 3.437,79 + 40,73 1,20
DJIA 13.056,72 12.800,18 - 256,54 1,96
FTSE 6.479,40 6.348,50 - 130,90 2,02
(*) Posisi 28 Des. ’07 & 4 Jan.’08.

Valuta Asing
JAKARTA (Bisnis) : Posisi kurs tengah uang kertas asing terhadap rupiah yang ditetapkan Bank Indonesia.
2 Jan 4 Jan+/-
EURO Rp 13.698,11 Rp 13.898,62 + 200,51
POUND Rp 18.577,07 Rp 18.585,62 + 8,55
HK$ Rp 1.200,00 Rp 1.207,78 + 7,78
Yen(100) Rp 8.386,37 Rp 8.651,89 + 265,52
Sin$ Rp 6.508,87 Rp 6.573,76 + 64,89
US$ Rp 9.370,00 Rp 9.424,00 + 54,00
AU$ Rp 8.231,60 Rp 8.274,87 + 43,27
THB Rp 278,84 Rp 281,75 + 2,91
Kurs Bea Masuk 31 Des. 2007 - 6 Jan. 2008, Rp9.412,20/US$.

BBJ hanya dapat bertahan selama 1,5 tahun

Bursa
Senin, 07/01/2008
'BBJ hanya dapat bertahan selama 1,5 tahun'
JAKARTA: Mengawali tahun baru, serangkaian program kerja sudah disusun jajaran PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), meski banyak tantangan yang akan dihadapinya kelak.

Bahkan rencana pengalihan pencatatan sistem perdagangan alternatif (SPA) sudah mengancam di depan mata. Apa yang telah dan akan dilakukan BBJ untuk mampu bertahan hidup? Untuk mengetahui strategi perusahaan Bisnis mewawancarai Dirut BBJ Hasan Zein Mahmud, berikut petikannya.

Bagaimana pencapaian target selama 2007?

Sekarang kami masih di audit oleh kantor akuntan publik. Tetapi tampaknya target laba sepanjang 2007 naik dari perkiraan semula yakni mendekati perolehan laba pada 2006 sebesar Rp10 miliar. Perkiraan sebelumnya hanya Rp7 miliar.

Apa yang mendorong kenaikan laba tersebut?

Kenaikan ini dipicu meningkatnya transaksi valuta dan indeks asing melalui SPA, meski pengeluaran kami sepanjang 2007 juga turut meningkat, a.l. karena biaya rapat umum pemegang saham (RUPS) yang berlangsung sampai tiga kali, dan terakhir pada 6 Desember 2007.

Bagaimana dengan hasil RUPS terakhir? Apakah sudah ditentukan penambahan direksi baru seperti yang sudah direncanakan sejak awal?

Belum ada pembicaraan tentang direksi baru. RUPS hanya membahas penyusunan rencana strategis (renstra) perusahaan untuk lima tahun ke depan (2008-2013) dan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) 2008. Pada dasarnya semua pemegang saham sudah setuju terhadap apa yang diajukan manajemen.

Hal-hal apa saja yang diatur dalam RKAT 2008, dan sudahkah mendapat persetujuan dari Bappebti?

RKAT 2008 sudah kami sampaikan ke Bappebti sejak 14 Desember 2007, kami tinggal menunggu persetujuannya. Salah satu garis besar dalam RKAT dan renstra lima tahun itu, kami akan mengembangkan produk komoditas dengan menggunakan dana dari SPA.

Salah satunya menghidupkan kembali kontrak berjangka minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan memfasilitasi perdagangan fisik emas.

Bagaimana dengan pengaturan tentang SPA, apakah masih dimasukkan dalam RKAT dan renstra?

Masih. Secara jujur, kami masih sangat bergantung pada SPA yang menjadi sumber penghasilan bursa. Empat tahun pertama pendirian bursa (1999-2002), SPA memang belum ada, sehingga bursa sulit untuk bertahan hidup.

Akumulasi kerugian sampai akhir 2002 lebih dari Rp 7 miliar. Nilai itu mengikis lebih dari 60% modal disetor BBJ yang mencapai Rp11,6 miliar. PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) juga mengalami kerugian yang tak kalah besar. Seluruh pialang anggota bursa praktis menderita rugi.

Di tubir kebangkrutan itu, muncul ide untuk menganalisasi transaksi para commission houses di luar bursa masuk ke dalam bursa. Selain motif mencari penghasilan bagi BBJ, KBI dan pelaku industri, juga upaya mengubah sistem menjadi lebih transparan dan memberi perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat spekulan di luar bursa atau over the counter (OTC).

Gagasan itu diberi label sistem perdagangan alternatif (SPA). Pada pengajuan pertama, gagasan itu ditolak Bappebti. Untuk menyambung nafas industri lahirlah program pelaporan transaksi luar bursa atau PPTLB.

PTLB inilah yang mengantarkan BBJ mencapai titik impas dalam tahun buku 2003.

Menurut rencana Bappebti akan mengalihkan pencatatan SPA dari bursa ke Asosiasi Pialang Berjangka Indonesia (APBI). Apakah sudah ada tanda-tandanya?

Bappebti sudah memberi sinyal atas rencana pengalihan itu. Kami sudah mendapat surat dari badan pengawas itu agar SPA tidak dimasukkan dalam renstra bursa.

Jika rencana pengalihan registrasi SPA dari BBJ ke asosiasi terealisasi, bagaimana dampaknya?

Kalau terealisasi, apa pun alasannya upaya memindahkan registrasi SPA dari BBJ ke APBI selain menjadi berita buruk juga sangat tidak adil. Kalau sumber aliran dana ke BBJ dihentikan, rencana pengembangan BBJ dan industri akan berhenti.

Dengan sisa laba dan likuiditas yang terakumulasi saat ini, BBJ hanya dapat bertahan selama 1,5 tahun. Itupun bila seluruh rencana investasi dibatalkan.

Keputusan itu rasanya tidak adil bagi teman-teman yang bekerja di BBJ. Mereka yang bekerja 24 jam membuat 'kue', lengkap dengan tugas 'cuci piring', kini kuenya mau diambil untuk 'bancaan' organisasi lain.

Keputusan itu juga tidak adil bagi pemegang saham, terutama pemegang saham yang tidak aktif sebagai pialang. Mereka dirayu untuk menjadi pemegang saham sebuah perseroan terbatas yang nirlaba, tidak berhak atas dividen. Perseroan terbatas yang tadinya telah mati suri, kini mulai bertunas. Tiba-tiba direnggas dengan paksa. Alasan yang mengemuka dari pengalihan itu adalah agar BBJ bisa fokus mengembangkan kontrak komoditas primer.

Bisakah Anda fokus memikul tugas suci sementara perut Anda dibiarkan kelaparan? Adilkah, jika memaksa Anda mengemban misi ideal sementara organisasi lain tidak perlu berperan, kecuali menghabiskan irisan kue yang Anda bikin? Lalu apa rencana BBJ untuk dapat bertahan?

Yang jelas kami akan terus bekerja sesuai jalurnya. Apa pun keputusan badan pengawas dan pemegang saham, akan kami ikuti.

Pewawancara: Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia

Kamis, 03 Januari 2008

Kinerja Indeks Islam Lebih Baik dari IHSG & LQ45

Bapepam-LK: Kinerja indeks Islam lebih baik dari IHSG dan LQ45

Senin, 31 Desember 07 Jakarta , Koran Internet - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengungkapkan, kinerja indeks saham Islami yang diukur dalam Jakarta Islamic Indeks (JII) lebih baik dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan indeks LQ45 (kelompok 45 saham likuid).

Ketua Bapepam-LK, Fuad Rahmany, dalam konferensi pers akhir pekan ini mengatakan, perkembangan produk pasar modal berbasis syariah hingga Desember 2007 tetap menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Kinerja saham-saham yang termasuk ke dalam JII menunjukkan tren yang naik, terlihat dari pertumbuhan indeks sebesar 63,4 persen yaitu dari 307,62 pada akhir 2006 menjadi 502,78 pada 10 Desember 2007.

Sementara itu indeks LQ45 hanya mengalami kenaikan sebesar 58,77 persen dari 388,29 pada akhir Desember 2006 menjadi 616,47 pada 10 Desember 2007 dan IHSG naik sebesar 54,54 persen pada periode yang sama dari 1.805,52 menjadi 2.790,26.

"Kinerja JII ini ternyata lebih baik jika dibandingkan dengan kinerja LQ45 dan IHSG," katanya. Dikatakannya, sejak awal tahun sampai dengan akhir tahun 2007 terdapat empat Emiten yang memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam untuk menawarkan sukuk dengan total nilai emisi Rp1,03 triliun.

Hal ini berarti sukuk telah tumbuh sebesar 23,5 persen dan total nilai emisi tumbuh sebesar 47,7 persen terhitung sejak akhir tahun 2006. Secara kumulatif sampai dengan akhir 2007 Bapepam-LK telah memberikan pernyataan efektif kepada 21 sukuk (obligasi syariah) dengan total nilai emisi senilai Rp 3,23 triliun atau 2,52 persen dari total nilai emisi obligasi.

Selama tahun ini terdapat empat reksadana syariah yang mendapatkan pernyataan efektif. Hal ini berarti reksadana syariah telah tumbuh sebesar 19,05 persen dan nilai aktiva bersih (NAB) tumbuh secara signifikan sebesar 206,5 persen terhitung sejak akhir 2006.

Secara kumulatif hingga akhir 2007 terdapat 25 reksadana syariah (5,7 persen dari total reksadana), dengan nilai NAB per 10 Desember 2007 senilai Rp2,1 triliun (2,35 persen dari total NAB reksadana). (Mnr/Ant)

Target Pertumbuhan Ekonomi 2008, Meragukan

Aviliani: Target pertumbuhan ekonomi 2008 meragukan
Kamis, 03 Januari 08

Jakarta, Koran Internet – Keyakinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai tujuh persen, sekalipun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008 pemerintah mengasumsikan pertumbuhan 6,8 persen, dapat terealisasi asal indikator pendorongnya tepat.

Ekonom Indef, Aviliani mengatakan ada tiga indikasi pendorong pertumbuhan ekonomi yaitu realisasi rencana partai politik menyebarkan uang ke masyarakat, pengucuran anggaran sebesar Rp 15 triliun pada 2008 untuk pengentasan kemiskinan melalui program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri, dan mencairkan biaya infrastruktur sebesar Rp 400 triliun.

Berdasarkan indikator tersebut, Aviliani lalu mempertanyakan kesungguhan pemerintah melaksanakannya secara berkelanjutan terutama dalam hal penyaluran dana secara tepat. “Mampu tidak pemerintah?” kata Aviliani di Jakarta, Kamis (3/1). Aviliani yang memprediksi pertumbuhan ekonomi 2008 tetap 6,3 persen seperti juga tahun sebelumnya, menyarankan pemerintah harus bekerja lebih keras.

Menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait hanya 50 persen target investasi yang tercapai, Aviliani mengamini. Target investasi dinilai Aviliani memang tidak tercapai karena aplikasinya tidak menyentuh rakyat miskin dan tidak membuka lapangan pekerjaan. Untuk itulah periode 2008, pemerintah harus lebih menggenjot investasi dengan tujuan mengentaskan kemiskinan dan mendorong kreativitas penciptaan lahan bagi tenaga kerja.(Hen/Ken)